Perlambatan Ekonomi Dorong Tiongkok Luncurkan Kebijakan Baru

Beijing: Moody’s Investors Service mengungkapkan upaya Tiongkok untuk menopang perlambatan ekonomi di tengah perang perdagangan yang sedang berlangsung dengan Washington mendorong Beijing untuk memperkenalkan kebijakan yang sebelumnya tidak teruji. Hal itu guna mengangkat perekonomian agar tidak terus melambat.

Ketika data resmi menunjukkan bahwa ekonomi Tiongkok bertahan selama sebagian besar tahun lalu, retakan sudah mulai muncul dalam beberapa bulan terakhir karena metrik produksi dan pesanan ekspor turun. Kondisi semacam itu tentu patut diperhatikan karena menjadi indikator melambatnya pertumbuhan ekonomi Tiongkok.

Setelah berpuluh-puluh tahun mengalami pertumbuhan yang sangat buruk, ekonomi terbesar kedua di dunia itu telah menghadapi angin sakal dalam negeri bahkan sebelum meningkatnya ketegangan perdagangan dengan AS. Namun perang tarif telah menumpuk pada tekanan tambahan bagi ekonomi Tiongkok.

“Kami melihat pertumbuhan ekonomi di Tiongkok melambat menjadi enam persen. Saya pikir masalah yang lebih besar bagi kita adalah tensi perang dagang telah meningkat di Tiongkok,” kata Asisten Wakil Presiden Moody’s Christian Fang, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 12 Januari 2019.

Di satu sisi, ada kampanye yang lebih luas untuk penghapusan risiko terkait penghapusan utang, tetapi kebijakan juga tampaknya sedikit bergeser ke arah mendukung pertumbuhan ekonomi. Menurut Fang beberapa alat dalam respons kebijakan yang Pemerintah Tiongkok temui tidak teruji.

“Pemotongan pajak, misalnya, kita tidak tahu apakah untuk bisnis dan konsumen serta bagaimana mereka akan menanggapi pemotongan pajak,” tuturnya.

Dalam beberapa bulan terakhir, Beijing telah mengumumkan beberapa langkah yang bertujuan menopang ekonominya. Media Tiongkok melaporkan bahwa Tiongkok akan memberikan lebih banyak keringanan pajak kepada perusahaan kecil. Langkah-langkah tersebut termasuk pemotongan substansial dalam tarif pajak pendapatan bisnis dan peningkatan ambang pajak.

(ABD)