Pengaruh AS Pilih Presiden Bank Dunia Munculkan Kekhawatiran

New York: Kepergian mendadak Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dapat menghidupkan kembali kekhawatiran lama tentang tingkat pengaruh Amerika Serikat (AS) dalam memilih pemimpin baru untuk lembaga keuangan internasional tersebut. Adapun Jim Yong Kim memutuskan untuk mengundurkan diri dan bergabung dengan perusahaan swasta.

Mengutip CNBC, Sabtu, 12 Januari 2019, ekonomi terbesar di dunia itu selalu memilih pemimpin Bank Dunia dan jika Presiden AS Donald Trump menunjuk orang yang memiliki pandangan yang sama, para ahli mengatakan, reputasi organisasi dan program perubahan iklim itu bisa dipertaruhkan.

Lebih dari tiga tahun sebelum masa jabatannya berakhir pada 2022, Kim, yang ditunjuk oleh mantan Presiden AS Barack Obama, mengumumkan pengunduran dirinya minggu ini, seraya mengatakan ia akan bergabung dengan perusahaan swasta yang bergerak di investasi infrastruktur.

Langkah itu atas kemauannya sendiri dan bukan karena ia didorong oleh Pemerintahan Trump. Tetapi sebagian lain berspekulasi bahwa Kim memiliki perbedaan mendasar dengan administrasi Trump atas kebijakan lingkungan. Batu bara, misalnya, adalah satu bidang utama di mana keduanya bersebrangan.

Pemerintah Trump ingin mempromosikan batu bara Amerika, tetapi di bawah pengawasan Kim, Bank Dunia mengakhiri dukungan untuk tenaga batu bara. Kondisi ini tentu tidak berjalan beriringan dan bisa menyebabkan adanya gesekan di masa mendatang.

“Jika seorang Presiden Bank Dunia baru yang ditunjuk oleh Donald Trump mencoba untuk memperkenalkan agenda konservatif yang kuat ke dalam kerja Bank Dunia, institusi tersebut akan segera kehilangan kredibilitas,”  kata mantan Dekan Institut Bank Pembangunan Asia Peter McCawley.

“Sulit membayangkan bahwa Kim tidak mendengar pesan dari Pemerintahan Trump,” tambah Peter McCawley, dalam catatan yang diterbitkan oleh The Lowy Institute, sebuah lembaga think tank Australia, seraya menambahkan bahwa Presiden Bank Dunia selalu menjaga hubungan dekat dengan tokoh senior di Departemen Keuangan AS.

(ABD)

Fitch Siap Turunkan Peringkat AS

New York: Fitch, lembaga pemeringkat dunia, memperingkatkan bahwa Amerika Serikat (AS) berada dalam bahaya karena berpeluang kehilangan peringkat kredit pada akhir tahun ini. Peringatan itu lantaran penutupan pemerintah yang sedang berlangsung dapat segera mulai berdampak negatif pada komposisi utang negara.

Kebuntuan antara Presiden AS Donald Trump dan Demokrat di Kongres mengenai paket pengeluaran untuk mendanai sembilan lembaga pemerintah memasuki hari ke-19 pada Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Kondisi itu terjadi di tengah terpecahnya anggota parlemen terkait permintaan Trump akan uang untuk membangun tembok perbatasan.

“Saya pikir orang-orang melihat angka di Congressional Budget Office (CBO). Jika orang meluangkan waktu untuk melihatnya maka Anda dapat melihat tingkat utang bergerak lebih tinggi dan Anda dapat melihat beban bunga di Pemerintah AS bergerak lebih tinggi selama dekade berikutnya,” kata Fitch’s Global Head of Sovereign Ratings James McCormack.

Menurutnya perlu ada semacam penyesuaian fiskal untuk mengimbangi kondisi itu atau defisit akan bergerak lebih tinggi dan rakyat AS pada dasarnya hanya meminjam uang untuk nantinya membayar bunga atas utang yang sudah dilakukan.

“Jadi ada pemburukan fiskal yang berarti di sana dan terjadi di Amerika Serikat,” kata James McCormack, seperti dilansir dari CNBC, Sabtu, 12 Januari 2019.

Jika penghentian ini berlanjut hingga 1 Maret dan pagu utang menjadi masalah beberapa bulan kemudian, McCormack menambahkan, Fitch mungkin perlu mulai memikirkan kerangka kerja kebijakan terkait ketidakmampuan untuk mengeluarkan anggaran dan apakah semua itu konsisten dengan peringkat kredit triple-A.

“Dari sudut pandang peringkat, plafon utang lah yang bermasalah,” pungkasnya.

(ABD)

2019, Ekonom Perkirakan PDB Tiongkok di Bawah 6{8de4d87087a9d3461e6b4e6c59da955db1ca08ee0f0d0597518378edb4a71b51}

Beijing: Kepala Ekonom DBS Group Research Taimur Baig mengungkapkan pertumbuhan ekonomi Tiongkok saat ini kemungkinan berada di bawah level enam persen di tengah permintaan domestik yang goyah. Tidak ditampik, sejumlah persoalan terus memperlambat pertumbuhan ekonomi termasuk adanya efek buruk dari perang dagang.

Sinyal terbaru tentang ekonomi terbesar kedua di dunia ini mengarah pada pertumbuhan yang lebih lemah, termasuk raksasa teknologi Apple baru-baru ini menurunkan proyeksi pendapatan untuk kuartal pertama karena menyalahkan berbagai faktor termasuk permintaan dari Tiongkok.

Bahkan, produsen mobil yang terdaftar di Hong Kong Geely mengatakan, mereka kehilangan target penjualan pada 2018 dan memperkirakan penjualan tetap sama pada 2019. “Sangat menarik bahwa bagian permintaan domestik adalah bagian yang lemah di mana permintaan eksternal tidak seburuk itu,” kata Baig, seperti dilansir dari CNBC, Sabtu, 12 Januari 2019.

Baig menambahkan permintaan domestik yang sangat lemah kemungkinan menandakan perubahan struktural dalam ekonomi Tiongkok. “Untuk bagiannya, DBS memperkirakan pertumbuhan Produk Domestik Bruto (PDB) Tiongkok akan enam persen di saat ini,” kata Baig.

Tahun lalu, Tiongkok melaporkan pertumbuhan ekonomi mencapai 6,5 persen pada kuartal ketiga yang menandai langkah terlemahnya sejak krisis keuangan global. Namun, target pertumbuhan resmi Tiongkok untuk 2018 adalah sekitar 6,5 persen.

Sementara data resmi menunjukkan ekonomi Tiongkok bertahan selama sebagian besar tahun lalu, sekarang tampaknya melambat karena metrik produksi dan pesanan ekspor jatuh di tengah sengketa perdagangan negara itu dengan AS, mitra dagang terbesarnya.

Di luar pertarungan tarif, ekonomi Tiongkok menghadapi tantangan domestiknya sendiri. Bahkan sebelum Presiden AS Donald Trump memulai peningkatan terbaru dalam ketegangan perdagangan, Beijing sudah berusaha mengelola perlambatan dalam ekonominya setelah puluhan tahun mengalami pertumbuhan yang sangat buruk.

(ABD)

Perang Dagang Jadi Kekhawatiran Terbesar Mantan Presiden OPEC

New York: Perang dagang antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok serta produksi serpihan AS yang meningkat menjadi kekhawatiran utama Menteri Energi Uni Emirat Arab yang sekaligus juga mantan Presiden OPEC. Setelah tahun yang bergejolak untuk harga minyak, negara-negara pengekspor hidrokarbon terus menekan turbulensi di masa depan.

Terkait hambatan geopolitik untuk 2019, Menteri Energi Uni Emirat Arab Suhail Al Mazrouei mengatakan, salah satunya adalah potensi perang yang memanas antara Tiongkok dan AS. Adapun Mazrouei menyelesaikan masa jabatannya sebagai pemimpin OPEC pada 1 Januari.

“Kami tidak bermain-main dengan Presiden Trump atau Presiden lainnya. Saya pikir ini salah satu yang mendasar. Tidak hanya memengaruhi kita tetapi juga memengaruhi seluruh ekonomi dunia,” kata Suhail Al Mazrouei, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 12 Januari 2019.

“Dan saya cenderung lebih optimistis bahwa kita tidak akan melihat perang. Ini taktik negosiasi, mereka akan berakhir pada resolusi, apapun, tahun ini atau tahun depan,” tambahnya.

Meski ada nada optimistis yang hati-hati terhadap hasil negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung antara AS dan Tiongkok, Mazrouei menambahkan, dampak produksi serpih AS di pasar juga menjadi sesuatu yang semakin menempatkan anggota OPEC di bawah tekanan.

“Tapi ini satu hal terkait berapa banyak yang berasal dari produksi minyak serpih (AS). Saya pikir itu faktor lain yang perlu kita perhatikan dan kita perlu memberi tahu bahwa itu harus masuk akal,” kata Mazrouei.

Perang dagang AS-Tiongkok, gejolak politik di Eropa, dan kekhawatiran perlambatan pertumbuhan ekonomi global yang akan datang juga secara serius mengaburkan prospek permintaan. Kondisi itu akhirnya memberikan efek buruk terhadap stabilitas dan harga minyak dunia.

Ditanya tentang kritik yang berkembang terhadap OPEC yang datang dari Gedung Putih, Mazrouei berpendapat, OPEC mendengarkan apa yang dikatakan AS ketika berbicara tentang harga minyak dan produksi, tetapi bersikeras bahwa kartel selalu melakukan hal yang benar.

“Saya pikir apa yang kami lakukan adalah kami mendengar mereka (AS). Mereka adalah konsumen utama versus negara-negara produsen utama, kami mendengar apa yang mereka katakan tetapi kami akan selalu melakukan hal yang benar dari perspektif kami yang selalu berusaha untuk menjaga keseimbangan,” pungkasnya.

(ABD)

AIIB Kucurkan USD500 Juta di Obligasi Infrastruktur

Beijing: Bank Investasi Infrastruktur Asia atau Asian Infrastructure Investment Bank (AIIB) telah setuju mengucurkan dana sebesar USD500 juta dalam bentuk portofolio kredit. Dana itu  guna berinvestasi dalam obligasi korporasi untuk membiayai investasi infrastruktur.

“Portofolio yang dikelola akan terdiri dari obligasi korporasi yang diterbitkan oleh emiten terkait infrastruktur, termasuk bligasi hijau di mana hasilnya diarahkan ke pembangunan infrastruktur berkelanjutan dan sektor produktif lainnya,” kata AIIB dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Xinhua, Sabtu, 12 Januari 2019.

Portofolio tersebut bertujuan untuk mengembangkan infrastruktur sebagai kelas aset, memperdalam pasar modal utang untuk infrastruktur, dan mempromosikan prinsip-prinsip integrasi lingkungan, sosial dan pemerintahan (ESG) dalam investasi pendapatan tetap di Asia yang sedang berkembang.

“Obligasi yang dibeli di bawah portofolio akan disaring, dinilai, dan dikelola berdasarkan prinsip-prinsip investasi ESG,” kata AIIB.

Dengan portofolio ini, Wakil Presiden dan Kepala Investasi AIIB DJ Pandian mengungkapkan, AIIB dapat membuka potensi terbesar untuk memobilisasi modal swasta guna membangun infrastruktur dari investor institusional.

“Jika hanya sebagian kecil dari triliunan dolar yang saat ini dikelola oleh investor institusi dialokasikan untuk proyek-proyek infrastruktur, akan ada dampak yang mengkatalisasi pada potensi pertumbuhan Asia yang muncul,” kata Direktur Jenderal AIIB untuk Operasi Investasi Dong-Ik Lee.

Bank pengembangan multilateral yang berkantor pusat di Beijing atau AIIB mulai beroperasi pada 2016 dan telah berkembang menjadi 93 anggota di seluruh dunia. AIIB diharapkan bisa menjadi bank yang mampu mengakselerasi pembangunan infrastruktur.

(ABD)

Dolar AS Terus Unjuk Gigi

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) memperpanjang kenaikan pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Hal itu terjadi karena investor terus mencerna pernyataan terbaru Ketua Federal Reserve AS dan pejabat the Fed lainnya yang meningkatkan taruhan mereka pada penaikan suku bunga yang lebih sedikit di 2019.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 12 Januari 2019, indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, naik 0,13 persen menjadi 95,6708 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1465 dari USD1,1499 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2845 dari USD1,2744 pada sesi sebelumnya.

Dolar Australia naik menjadi USD0,7206 dibandingkan dengan USD0,7182. USD membeli 108,48 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 108,42 yen Jepang pada sesi sebelumnya. USD naik menjadi 0,9844 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9842 franc Swiss, dan naik menjadi 1,3271 dolar Kanada dari 1,3227 dolar Kanada.

Ketua the Fed Jerome Powell menekankan kesabaran dalam pembuatan kebijakan di bank sentral dalam sebuah forum di Economic Club of Washington. Ia menambahkan bahwa kebijakan the Fed dapat bergerak secara fleksibel dan cepat jika data ekonomi tampaknya menguntungkan.

Pernyataan Powell sejalan dengan sikap hati-hati Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) tentang kebijakan moneter the Fed, yang ditunjukkan dalam risalah rapat kebijakan 18-19 Desember yang dirilis pada Kamis.

Presiden Federal Reserve Bank of Chicago Charles Evans mengatakan the Fed memiliki kapasitas yang baik untuk menunggu dalam hal menentukan apakah akan menaikkan suku bunga atau tidak.

Selain itu, Indeks Harga Konsumen AS turun pada Desember untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan sebesar 0,1 persen, juga angka terlemah sejak Maret tahun lalu, menurut Departemen Tenaga Kerja.

Para analis mengatakan data hangat mengindikasikan tekanan inflasi ringan, yang akan memberi the Fed kelonggaran untuk mempertimbangkan keputusan kenaikan suku bunga akhir tahun ini.

(ABD)

Kemilau Emas Dunia Menguat

Chicago: Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik tipis pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Penguatan terjadi karena status logam mulia itu menarik minat investasi dan indeks saham indeks Amerika Serikat (AS) memperpanjang kerugian sebelum pasar emas ditutup.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 12 Januari 2019, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari naik USD2,10 atau 0,16 persen menjadi menetap di USD1.289,50 dolar per ons. Namun, greenback memberikan tekanan untuk emas. Indeks USD, yang mengukur dolar terhadap enam rival, naik 0,05 persen menjadi 95,59 pada 1830 GMT.

Indeks Dow Jones Industrial Average turun 68,54 poin atau 0,29 persen pada 1845 GMT. Sedangkan S&P 500 dan Nasdaq juga mengikuti penurunan Dow. Ketika ekuitas membukukan kerugian, investor mungkin mulai membeli aset safe haven seperti emas.

Emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan USD, yang berarti jika USD menguat, emas berjangka akan jatuh karena emas, dihargai dalam USD menjadi mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 1,30 sen atau 0,08 persen menjadi USD15,656 per ons. Sedangkan platinum untuk pengiriman April turun sebanyak USD8,10 atau 0,98 persen menjadi ditutup pada USD818 per ons.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average turun sebanyak 5,97 poin atau 0,02 persen menjadi 23.995,95. Sedangkan S&P 500 turun sebanyak 0,38 poin atau 0,01 persen menjadi 2.596,26. Indeks Komposit Nasdaq turun 14,59 poin atau 0,21 persen menjadi 6.971,48.

Penutupan sebagian Pemerintah AS memasuki hari ke-21 pada Jumat, mencapai rekor untuk penyimpangan terpanjang dalam pendanaan federal. Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump mencuit bahwa ia akan membatalkan perjalanannya ke Forum Ekonomi Dunia tahunan di Davos akhir bulan ini karena penutupan pemerintahan.

(ABD)

Harga Minyak Dunia Jatuh

New York: Harga minyak dunia turun pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB). Kondisi itu menghentikan reli berturut-turut selama sembilan hari dan terbebani oleh meningkatnya greenback serta penurunan cadangan energi karena kekhawatiran yang disebabkan oleh penutupan Pemerintah Amerika Serikat (AS) yang sedang berlangsung.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 12 Januari 2019, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari turun USD1 menjadi di USD51,59 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret jatuh USD1,2 menjadi ditutup pada USD60,48 per barel di London ICE Futures Exchange.

Minyak mentah berjangka turun bersama dengan sektor energi yang surut di 11 sektor utama S&P 500, yang memimpin penghambat dengan penurunan sekitar 0,58 persen. Performa hangat dari minyak mentah berjangka dan stok energi datang karena penutupan Pemerintah AS telah berlangsung selama tiga minggu dan tidak menunjukkan tanda-tanda berakhir.

Analis dan investor telah mengaktifkan mode risk-off dan menjadi lebih berhati-hati tentang memegang aset berdenominasi dolar. Kondisi itu karena USD melambung pada Jumat dan minyak mentah menjadi lebih tidak menguntungkan karena lebih mahal bagi para pedagang dan investor.

Namun, baik minyak mentah WTI maupun Brent membukukan kenaikan mingguan untuk minggu kedua, dengan minyak mentah AS naik hampir delapan persen dan Brent naik sekitar enam persen. Sedangkan OPEC kini tengah berupaya menjaga stabilitas pasar minyak dunia.

Mengimbangi dampak politik yang merugikan, rig minyak di Amerika Serikat menurun empat, penurunan mingguan kedua, karena kehati-hatian tumbuh di antara produsen minyak dalam rencana pengeboran mereka untuk 2019, menurut perusahaan jasa energi AS Baker Hughes.

(ABD)

Indeks Utama Saham Amerika Serikat Rontok

New York: Bursa saham Amerika Serikat (AS) ditutup lebih rendah pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB) karena penutupan Pemerintah AS berlarut-larut dan data ekonomi utama melemah. Selain itu, perang dagang masih terus terjadi meski sekarang ini sedang dilakukan perundingan antara AS dengan Tiongkok.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 12 Januari 2019, indeks Dow Jones Industrial Average turun sebanyak 5,97 poin atau 0,02 persen menjadi 23.995,95. Sedangkan S&P 500 turun sebanyak 0,38 poin atau 0,01 persen menjadi 2.596,26. Indeks Komposit Nasdaq turun 14,59 poin atau 0,21 persen menjadi 6.971,48.

Penutupan sebagian Pemerintah AS memasuki hari ke-21 pada Jumat, mencapai rekor untuk penyimpangan terpanjang dalam pendanaan federal. Pada Kamis, Presiden AS Donald Trump mencuit bahwa ia akan membatalkan perjalanannya ke Forum Ekonomi Dunia tahunan di Davos akhir bulan ini karena penutupan pemerintahan.

Investor khawatir bahwa penutupan pemerintah berkepanjangan dapat merugikan ekonomi dan pasar keuangan. Di sisi ekonomi, indeks harga konsumen AS untuk semua konsumen perkotaan turun 0,1 persen pada Desember, penurunan pertama dan pembacaan terlemah sejak Maret.

Selama 12 bulan terakhir, indeks semua item meningkat 1,9 persen sebelum penyesuaian musiman. Penurunan ini disebabkan oleh penurunan tajam harga bensin tetapi tekanan inflasi yang mendasarinya tetap kuat karena biaya sewa rumah dan perawatan kesehatan terus meningkat.

Sebelumnya, Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell mengatakan penutupan pemerintah federal yang berkepanjangan jelas akan berdampak pada perekonomian. Presiden Amerika Serikat Donald Trump perlu mengambil keputusan untuk segera menghentikan penutupan tersebut.

Selama wawancara di The Economic Club of Washington, Powell mengatakan, penutupan yang berkelanjutan menghentikan beberapa umpan data yang diperlukan the Fed dan membuat prospek ekonomi AS kurang jelas sehingga menyulitkan pembuatan kebijakan.

“Kami akan memiliki gambaran yang kurang jelas tentang ekonomi jika itu (penutupan) berjalan lebih lama,” kata Powell.

(ABD)

Malaysia Tetapkan Harga Premium Setiap Minggu

Ilustrasi. (FOTO: Medcom.id)

Putrajaya: Pemerintah Malaysia melaksanakan penetapan harga eceran produk premium secara mingguan untuk membolehkan pengguna menikmati semua perubahan harga dengan lebih cepat selaras dengan penurunan harga premium di pasaran dunia.

Menteri Keuangan Malaysia Lim Guan Eng mengatakan penetapan harga premium mingguan tersebut sesuai dengan metode mengambang yang dikendalikan di bawah formula Mekanisme Harga Otomatis (Authomatic Pricing Mechanism).

Mengutip Antara, Jumat, 11 Januari 2019, untuk harga eceran premium Ron97 dan Ron95 turun satu sen dari 2,22 ringgit Malaysia dan 1,92 ringgit Malaysia per liter masing-masing. Sedangkan harga solar naik satu sen menjadi 2,05 ringgit Malaysia per liter mulai tengah malam ini hingga 18 Januari 2019.

“Demi melindungi pengguna dari kesan kenaikan harga yang kentara apabila harga minyak dunia meningkat, harga eceran produk premium akan ditetapkan tidak melebihi 2,20 ringgit Malaysia per liter untuk Ron95 dan 2,18 ringgit Malaysia per liter bagi diesel melalui pemberian subsidi,” katanya.

Guan Eng mengatakan kaedah mingguan itu menurunkan harga eceran produk premium apabila harga minyak dunia turun dan membatasi pada 2,20 ringgit Malaysia bagi Ron95 dan 2,18 ringgit Malaysia untuk diesel apabila harga minyak dunia naik, adalah inisiatif baru Pemerintah Pakatan Harapan (PH) demi melindungi kepentingan golongan B40 yang tidak pernah dilakukan pemerintah terdahulu.

Golongan B40 adalah golongan masyarakat yang wajib dibantu pemerintah Malaysia.

(AHL)

AS Prediksi Adanya Kunjungan Negosiator Dagang Tiongkok

Beijing: Pejabat Amerika Serikat (AS) memperkirakan kemungkinan kunjungan perunding dagang tertinggi Tiongkok ke Washington bulan ini.

Mereka mengisyaratkan bahwa pembahasan tingkat lebih tinggi mungkin akan menindaklanjuti perundingan dengan pejabat tingkat menengah di Beijing pekan ini, di tengah upaya kedua negara untuk mencapai kesepakatan mengakhiri perang tarif.

“Wakil Perdana Menteri Liu He sangat mungkin akan datang dan mengunjungi kami akhir bulan ini dan saya berharap penutupan pemerintahan tidak akan memberikan dampak,” ujar Menteri Keuangan AS Steven Mnuchin kepada wartawan di Washington, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 11 Januari 2019.

“Kami akan melanjutkan pertemuan ini setelah kami mengirim delegasi ke Tiongkok.”

Pemerintah AS sudah memasuki hari ke-20 penutupan sebagian, saat Presiden Donald Trump, yang merupakan tokoh Republik, dan Kongres -yang didominasi partai Demokrat- terlibat sengketa atas pendanaan dan keinginan Trump untuk membangun dinding di perbatasan AS-Meksiko.

Beberapa orang yang mengetahui perundingan di Beijing pada Kamis mengungkapkan harapan bahwa Liu akan melanjutkan perundingan dengan Perwakilan Dagang AS Robert Lighthizer dan Mnuchin.

Perundingan di tingkat tersebut dipandang sebagai hal penting untuk membuat keputusan penting guna meredakan perang dagang, yang telah mengganggu arus barang bernilai ratusan miliar dolar dan mendera pasar global.

Trump menuntut ketentuan dagang lebih baik dengan Tiongkok, dan AS menekan Beijing untuk mengatasi masalah yang akan menuntut perubahan struktural seperti pencurian kekayaan intelektual, pemindahan teknologi secara paksa dan hambatan nontarif lainnya.

Trump pada Kamis mengatakan AS sudah “sangat berhasil” dalam perundingan dagangnya dengan Tiongkok. Juru bicara kantor Lighthizer menolak berkomentar. Setelah memasuki lebih dari setengah periode penghentian perang dagang AS-Tiongkok selama 90 hari yang disetujui pada 1 Desember, ketika Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu di KTT G20 di Argentina, hanya ada sedikit perincian terkait perkembangan yang sudah dicapai.

Trump berjanji akan menaikkan tarif impor Tiongkok senilai USD200 miliar (sekitar Rp2,81 kuadriliun) pada 2 Maret jika Tiongkok tidak mengambil langkah untuk melindungi hak kekayaan intelektual AS, mengakhiri kebijakan yang memaksa perusahaan AS memindahkan teknologi ke mitra Tiongkok, memungkinan lebih banyak akses pasar bagi pengusaha AS dan mengurangi hambatan nontarif lain bagi produk-produk AS.

Tenggat waktu tersebut terlihat cukup tergesa-gesa, tetapi kelanjutan negosiasi langsung telah meningkatkan harapan tercapainya sebuah kesepakatan.

“Kami telah mempertemukan kembali kedua belah pihak ke meja perundingan. Itu cukup menyenangkan,” ujar Myron Brilliant, yang merupakan kepala urusan internasional Kamar Dagang AS, saat berbicara kepada wartawan di sebuah acara pada Kamis.

Kementerian Perdagangan Tiongkok pada Kamis mengatakan bahwa konsultasi tambahan dengan AS sedang diatur setelah Beijing merundingkan penanganan isu struktural dan membantu menguatkan dasar untuk mengatasi kekhawatiran AS dan Tiongkok.

Juru bicara Kementerian Perdagangan Gao Feng mengatakan kepada wartawan bahwa kedua belah pihak terlihat cukup “serius” dan “jujur.” Saat ditanya tentang sikap AS dalam isu seperti pemindahan teknologi secara paksa, hak kekayaan intelektual, hambatan nontarif dan serangan siber, dan apakah Tiongkok yakin mereka dapat mencapai kesepakatan dengan AS, Gao mengatakan isu tersebut merupakan “bagian penting” perundingan Beijing.

“Sudah ada perkembangan dalam hal ini,” katanya tanpa memberi perincian lebih lanjut.

Tiongkok berulang kali mengesampingkan keluhan terkait pelanggaran hak kekayaan intelektual, dan menolak tudingan bahwa perusahaan asing menghadapi pemindahan teknologi secara paksa.

Kebuntuan Sengit

Pembahasan terkait isu tersebut merupakan bagian dari perundingan yang mencakup banyak aspek, kata beberapa orang di Washington yang mengetahui diskusi tersebut.

Pejabat Tiongkok mendengarkan “dengan baik” keluhan AS, kata mereka, tetapi menanggapinya dengan mengatakan bahwa AS telah salah paham dalam beberapa isu, tetapi beberapa isu lainnya dapat diatasi.

“Ini merupakan kebuntuan yang cukup sengit,” ujar satu orang yang mengetahui diskusi tersebut. Tiongkok mengatakan mereka tidak akan menyerah pada beberapa isu yang mereka anggap penting.

Pada Rabu, kantor Perwakilan Dagang AS mengatakan pejabat dari kedua belah pihak mendiskusikan “beberapa cara untuk mencapai hubungan dagang yang adil, menguntungkan dan seimbang,” dan fokus terhadap janji Tiongkok untuk membeli produk dan jasa di sektor pertanian, energi, manufaktur dan lainnya dalam jumlah besar dari AS.”

Lembaga perdagangan AS tersebut mengatakan perundingan tersebut juga fokus pada beberapa cara untuk memastikan pelaksanaan komitmen yang dibuat AS kepada AS.

Pengambilan Langkah Pejabat AS dan Tiongkok membuat kemajuan lebih baik dalam mengatasi beberapa isu seperti menempa rincian terkait janji Tiongkok untuk membeli barang-barang dan jasa AS di sektor pertanian, energi dan manufaktur “dalam jumlah besar, kata sumber.

Setelah Trump dan Xi bertemu, Tiongkok melanjutkan pembelian kedelai AS. Pembelian menurun setelah China memberlakukan bea impor sebesar 25 persen terhadap pengiriman tanaman penghasil minyak sayur AS pada 6 Juli untuk menanggapi pemberlakuan tarif AS.

Tiongkok juga memangkas tarif terhadap mobil AS, mengurungkan rencana pengembangan industri yang dikenal sebagai “Buatan Tiongkok 2025” dan menurunkan pembelian lebih banyak minyak AS.

Pada awal pekan ini, Tiongkok menyetujui impor lima tanaman rekayasa genetika, yang pertama dalam sekitar 18 bulan, yang dapat meningkatkan pembelian mereka terhadap biji-bijian dari luar negeri dan meredam tekanan AS guna membuka pasarnya bagi produk-produk pertanian yang lebih banyak lagi.

(AHL)

Sri Mulyani Dinilai Pantas Jadi Presiden Bank Dunia

Menteri Keuangan Sri Mulyani. (FOTO: AFP)

Jakarta: Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani disebut-sebut bisa menjadi pengganti Jim Yong Kim sebagai Presiden Bank Dunia.

Saatnya orang di luar Amerika Serikat (AS) yang menjadi Presiden Bank Dunia. Hal itu dikatakan, US Chairman of The Official Monetary and Financial Institution Forum (OMFIF), Mark Sobel.

Ia mengatakan sejak pembentukan International Monetary Fund-World Bank (IMF-WB) pada perang dunia II, orang Amerika selalu mendominasi jabatan pemimpin Bank Dunia. Menurutnya, sekarang saatnya untuk berubah.

“Ini waktunya untuk perubahan,” kata Mark Sobel seperti dikutip dari laman OMFIF, Jumat, 11 Januari 2019.

Jika negara berkembang mau berubah, perlu tindakan cepat untuk menentukan kandidat yang kuat, kredibel, dan dihormati secara global.

Menurut dia banyak kandidat yang pantas menggantikan Kim yang berasal dari luar Amerika Serikat. Beberapa di antaranya Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani Indrawati dan mantan Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iwela.

“Banyak kandidat yang baik. Mereka termasuk, misalnya, Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani (mantan direktur pengelola Bank Dunia),” sebut dia.

Ia menuturkan perubahan ekonomi global saat ini membuka peluang kandidat presiden Bank Dunia berasal dari luar AS. Ada banyak kandidat yang berpotensial di dunia, termasuk dari kandidat di AS itu sendiri. Namun sayangnya, seiring pengunduran diri Kim, Presiden AS Donald Trump akan menggunakan pengaruhnya untuk mencari pengganti Kim.

(AHL)

Fed Peringatkan Dampak Negatif Perpanjangan Penutupan Pemerintah AS

Washington: Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell mengatakan penutupan pemerintah federal yang berkepanjangan jelas akan berdampak pada perekonomian. Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump perlu mengambil keputusan untuk segera menghentikan penutupan tersebut.

Selama wawancara di The Economic Club of Washington, Powell mengatakan, penutupan yang berkelanjutan menghentikan beberapa umpan data yang diperlukan the Fed dan membuat prospek ekonomi AS kurang jelas sehingga menyulitkan pembuatan kebijakan.

“Kami akan memiliki gambaran yang kurang jelas tentang ekonomi jika itu (penutupan) berjalan lebih lama,” kata Powell, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 11 Januari 2019. Biro Analisis Ekonomi (BEA), kantor di bawah Departemen Perdagangan AS, telah berhenti memperbarui data selama berminggu-minggu karena penutupan.

BEA memantau Produk Domestik Bruto (PDB) Amerika Serikat dan banyak indikator penting lainnya, termasuk satu set data yang disebut Indeks Harga Pengeluaran Konsumsi Pribadi, yang merupakan indikator inflasi yang paling disukai the Fed.

Biro Sensus Amerika Serikat, yang menyediakan data mengenai perdagangan internasional, manufaktur, konstruksi, perumahan dan banyak lainnya, juga menghentikan pembaruan data lebih lanjut karena kelangkaan dana federal.

Bagi beberapa investor yang baru saja melewati volatilitas baru-baru ini di pasar keuangan, kurangnya data juga mempersulit mereka untuk mengukur kinerja ekonomi. Ketua the Fed juga memperingatkan bahwa jika perpanjangan penutupan terjadi, dampak pada ekonomi akan muncul dalam data dengan cukup jelas.

Pertarungan partisan telah memaksa penutupan sebagian pemerintah yang membentang hingga hari ke-20 dan, tanpa akhir yang terlihat, akan membuatnya menjadi yang terpanjang dalam sejarah AS.

(ABD)

Bank Dunia Umumkan Proses Seleksi untuk Presiden Berikutnya

Washington: Bank Dunia mengumumkan proses pemilihan presiden berikutnya untuk menggantikan Jim Yong Kim, yang awal pekan ini tiba-tiba mengumumkan pengunduran dirinya lebih dini. Adapun Kim mengungkapkan akan bergabung dengan perushaan swasta yang bergerak di bidang investasi infrastruktur.

“Setelah pertemuan dewan, Dewan Direktur Eksekutif Bank Dunia menegaskan komitmennya untuk proses seleksi terbuka, berdasarkan prestasi dan transparan,” kata Bank Dunia dalam sebuah pernyataan, seperti dikutip dari Antara, Jumat, 11 Januari 2019.

Menurut Bank Dunia para Direktur Eksekutif Bank Dunia setuju bahwa para kandidat harus berkomitmen untuk implementasi ‘Forward Look’ dan perjanjian paket modal sebagaimana diartikulasikan dalam Sustainable Financing for Sustainable Development Paper, kata pernyataan itu.

Kandidat juga harus memenuhi beberapa kriteria penting, termasuk rekam jejak kepemimpinan yang terbukti, pengalaman mengelola organisasi besar dengan paparan internasional, dan komitmen yang kuat untuk dan penghargaan atas kerja sama multilateral.

Bank Dunia mengatakan nominasi untuk presiden berikutnya akan diajukan antara 7 Februari hingga 14 Maret, dan direktur eksekutif akan memutuskan daftar pendek hingga tiga kandidat. “Wawancara formal oleh Direktur Eksekutif akan dilakukan untuk semua kandidat terpilih dengan harapan memilih Presiden baru sebelum Pertemuan Musim Semi pada April,” katanya.

Kim pada Senin 7 Januari mengumumkan bahwa ia akan mengundurkan diri dari posisinya di Bank Dunia efektif 1 Februari, lebih dari tiga tahun menjelang akhir masa jabatannya yang dijadwalkan sebagai presiden lembaga pinjaman internasional pada 2022.

Kim pertama kali menjadi presiden Bank Dunia ke-12 pada 1 Juli 2012. Sebelum jabatan ini, ia menjabat sebagai presiden lembaga akademik terkenal di AS, Dartmouth College. Global Infrastructure Partners (GIP), salah satu investor infrastruktur global yang berbasis di New York, mengkonfirmasi bahwa Kim akan menjadi mitra dan Wakil Ketua GIP pada 1 Februari.

(ABD)

Bursa Saham Amerika Serikat Berakhir Menghijau

New York: Saham-saham di Wall Street berakhir lebih tinggi pada penutupan perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), meskipun panduan penjualan dan pendapatan dari peritel besar dan maskapai penerbangan ternama selama musim liburan mengecewakan.

Mengutip Antara, Jumat, 11 Januari 2019, indeks Dow Jones Industrial Average naik 122,80 poin atau 0,51 persen, menjadi berakhir di 24.001,92 poin. Indeks S&P 500 bertambah 11,68 poin atau 0,45 persen, menjadi ditutup di 2.596,64 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir meningkat 28,99 poin atau 0,42 persen, menjadi 6.986,07 poin.

Saham Mac’s anjlok hampir 18 persen menjadi ditutup pada USD26,11 per saham setelah melaporkan penjualan liburan yang lemah untuk 2018, dan memangkas prospek pendapatannya pada tahun ini.

Jaringan toko serba ada itu mengatakan dalam sebuah pernyataannya bahwa penjualan daring pada November dan Desember, serta penjualan di toko-toko yang beroperasi selama setidaknya 12 bulan, naik 1,1 persen secara gabungan.

Perusahaan ritel itu memperkirakan tidak ada pertumbuhan dalam penjualan bersih untuk tahun fiskal 2018, daripada peningkatan antara 0,3 persen hingga 0,7 persen yang diperkirakan sebelumnya. Proyeksi penjualan toko-tokonya yang sama untuk tahun ini direvisi turun menjadi 2,0 persen dari kisaran 2,3 persen hingga 2,5 persen.

Sementara itu, American Airlines memangkas perkiraan labanya dan mengatakan pihaknya kesulitan untuk meningkatkan pendapatan pada akhir 2018. Maskapai terbesar di Amerika Serikat tersebut mengatakan pendapatan per mil kursi yang tersedia, metrik industri utama, naik 1,5 persen pada kuartal keempat 2018 secara tahun ke tahun.

Kenaikan itu dibandingkan dengan kisaran 1,5 persen hingga 3,5 persen yang diberikan investor sebelumnya. Maskapai mengatakan tidak termasuk item-item khusus, pihaknya memproyeksikan untuk membukukan laba per saham terdilusi antara USD4,40 hingga USD4,60, turun dari estimasi pada Oktober.

(ABD)

Harga Emas Dunia Tertekan Keperkasaan Dolar AS

Chicago: Harga emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange sedikit lebih rendah pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB). Kondisi itu terjadi karena logam mulia terus berada di bawah tekanan oleh dolar Amerika Serikat (USD) yang lebih kuat.

Mengutip Antara, Jumat, 11 Januari 2019, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari 2019, turun USD4,6 atau 0,36 persen menjadi menetap pada USD1.287,4 per ons. Para analis mengatakan pergerakan greenback terus menjadi salah satu faktor terbesar bagi pergerakan emas, dengan mata uang dipengaruhi rencana suku bunga Federal Reserve AS.

Gerak USD telah melemah bulan ini di tengah ekspektasi bahwa the Fed akan menjadi kurang agresif daripada yang diperkirakan sebelumnya dalam pengetatan kebijakan moneter. Indeks dolar AS, yang mengukur USD terhadap enam mata uang utama rivalnya, naik 0,28 persen menjadi 95,46 pada pukul 18.15 GMT.

Emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan USD yang berarti jika USD menguat maka emas berjangka akan jatuh, karena emas yang dihargai dalam USD menjadi mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lain.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun 9,20 sen AS atau 0,58 persen menjadi menetap di USD15,643 per ons. Sedangkan platinum untuk pengiriman April bertambah sebanyak USD0,80 atau 0,10 persen menjadi ditutup pada USD826,10 per ons.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 122,80 poin atau 0,51 persen, menjadi berakhir di 24.001,92 poin. Indeks S&P 500 bertambah 11,68 poin atau 0,45 persen, menjadi ditutup di 2.596,64 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir meningkat 28,99 poin atau 0,42 persen, menjadi 6.986,07 poin.

Saham Mac’s anjlok hampir 18 persen menjadi ditutup pada USD26,11 per saham setelah melaporkan penjualan liburan yang lemah untuk 2018, dan memangkas prospek pendapatannya pada tahun ini.

(ABD)

Harga Minyak Lanjutkan Penguatan

New York: Harga minyak naik tipis pada akhir perdagangan Kamis waktu setempat (Jumat WIB), memperpanjang kenaikannya untuk hari kesembilan berturut-turut. Hal itu terjadi setelah Arab Saudi mengumumkan volume pengurangan produksi untuk Januari dan Februari.

Mengutip Antara, Jumat, 11 Januari 2019, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, naik USD0,23 menjadi menetap pada USD52,59 per barel di New York Mercantile Exchange. Patokan internasional, minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret, naik USD0,24 menjadi ditutup pada USD61,68 per barel di London ICE Futures Exchange.

Arab Saudi, pemasok minyak utama dunia, mengumumkan akan mengurangi pasokan minyak dalam dua bulan terakhir. Menteri Energi Saudi Khalid al-Falih mengatakan produsen minyak akan memotong produksinya menjadi 7,2 juta barel per hari (bph) pada Januari, turun dari 8,0 juta barel per hari pada November.

Dia juga mengumumkan pengurangan produksi akan naik dengan pengurangan 100 ribu barel per hari tambahan pada Februari. Sedangkan Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan kekhawatiran kelebihan pasokan global berkurang lebih lanjut karena persediaan minyak mentah komersial AS turun 1,7 juta barel pada pekan yang berakhir 4 Januari.

Adapun kondisi itu menandai penurunan terbesar sejak November 2018. Penurunan persediaan minyak Amerika Serikat terjadi di tengah meningkatnya impor minyak mentah, yang mencatat rata-rata 7,8 juta barel per hari (bph) pekan lalu.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 122,80 poin atau 0,51 persen, menjadi berakhir di 24.001,92 poin. Indeks S&P 500 bertambah 11,68 poin atau 0,45 persen, menjadi ditutup di 2.596,64 poin. Indeks Komposit Nasdaq berakhir meningkat 28,99 poin atau 0,42 persen, menjadi 6.986,07 poin.

Saham Mac’s anjlok hampir 18 persen menjadi ditutup pada USD26,11 per saham setelah melaporkan penjualan liburan yang lemah untuk 2018, dan memangkas prospek pendapatannya pada tahun ini.

(ABD)

Tiongkok Tegaskan Perundingan Dagang dengan AS

Shanghai/Beijing: Kementerian Perdagangan Tiongkok mengungkap perundingan perdagangan antara Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) pekan ini mencakup banyak aspek dan membantu menguatkan dasar resolusi terhadap masalah yang menjadi kekhawatiran satu sama lain. Akan tetapi pihak kementerian tidak memberi rincian terkait isu yang dibahas.

Perundingan selama tiga hari di Beijing yang dirampungkan pada Rabu tersebut merupakan negosiasi langsung pertama sejak Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping bertemu di Buenos Aires pada Desember dan menyepakati penghentian perang dagang selama 90 hari yang telah mengganggu arus barang bernilai ratusan miliar dolar.

“Kedua belah pihak berbagi pandangan tentang banyak aspek secara mendalam dan menyeluruh terkait isu perdagangan dan struktural yang menjadi kekhawatiran bersama, dan mendorong tercapainya kata mufakat dan menguatkan dasar resolusi terhadap masalah yang menjadi kekhawatiran satu sama lain,” ungkap Kementerian Perdagangan Tiongkok dalam pernyataan singkat, demikian seperti dikutip dari Antara, Kamis, 10 Januari 2019.

Sejumlah perusahaan di kedua negara terkena dampak sengketa dagang tersebut. Apple Inc pekan lalu menggemparkan pasar global setelah memangkas perkiraan penjualan mereka, yang menurut mereka diakibatkan oleh lemahnya permintaan di Tiongkok. Sementara eksportir Tiongkok melaporkan penurunan pesanan jalur pipa dari AS.

Washington menyerahkan kepada Beijing banyak tuntutan yang akan mendorong perumusan ulang ketentuan dagang antara kedua negara dengan perekonomian terbesar di dunia tersebut. 
Tuntutan itu mencakup perubahan kebijakan Tiongkok dalam perlindungan hak kekayaan intelektual, pemindahan teknologi dan subsidi industri serta hambatan nontarif lain di sektor perdagangan.

Setelah melalui separuh masa dari penghentian perang dagang selama 90 hari, telah ada beberapa rincian konkret terkait perkembangan yang telah dicapai sejauh ini. Pertemuan di Beijing tidak berada di tingkat kementerian, karena itu tidak diperkirakan akan menghasilkan kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang.

Pada Rabu, kantor Perwakilan Dagang AS (US Trade Representative/USTR) mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa beberapa pejabat dari kedua belah pihak mendiskusikan sejumlah cara untuk mencapai hubungan dagang yang adil, saling menguntungkan, dan seimbang.

“Perundingan juga difokuskan pada janji Tiongkok untuk membeli produk dan jasa di sektor pertanian, energi, manufaktur dan lainnya dalam jumlah besar dari AS,” ungkap USTR.

Perundingan tersebut membahas rencana peningkatan tarif AS terhadap impor Tiongkok senilai USD200 miliar. Trump mengatakan dia akan menaikkan bea impor tersebut menjadi 25 persen dari 10 persen yang diberlakukan saat ini jika tidak ada kesepakatan yang dicapai sebelum 2 Maret, dan mengancam akan memberlakukan pajak terhadap semua impor dari Tiongkok jika Beijing tidak memenuhi permintaan AS.

Pejabat AS telah lama mengeluh bahwa  Tiongkok gagal memenuhi janjinya di sektor perdagangan, seringkali menyinggung janji Beijing untuk melanjutkan impor daging sapi AS yang memakan waktu lebih dari satu dekade untuk dapat benar-benar diimplementasikan.

Belum ada rilis jadwal negosiasi langsung lebih lanjut setelah perundingan tersebut, dan USTR mengatakan delegasi AS kembali ke Washington untuk melaporkan pertemuan itu dan untuk menerima pengarahan terkait langkah selanjutnya.

“Kedua belah pihak sepakat untuk terus mempertahankan hubungan erat,” ungkap Kementerian Perdagangan Tiongkok.

(AHL)

Dunia Butuh Kinerja Ekonomi Kuat dari AS-Tiongkok

San Francisco: CEO Apple Tim Cook mengatakan bahwa ekonomi Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok yang kuat diperlukan agar ekonomi dunia menjadi lebih kuat lagi di masa mendatang. Adapun Cook optimistis tentang solusi untuk sengketa perdagangan di antara kedua negara yang sedang berlangsung.

“Adalah kepentingan terbaik kedua belah pihak yakni Amerika Serikat dan Tiongkok untuk mencapai kesepakatan mengenai perselisihan perdagangan mereka,” kata Cook, seperti dikutip dari Antara, Kamis, 10 Januari 2019.

Menurutnya perjanjian perdagangan antara Amerika Serikat dan Tiongkok jelas akan baik tidak hanya bagi Apple semata tetapi lebih banyak tentang dunia secara umum. “Ini adalah perjanjian perdagangan yang sangat kompleks dan perlu diperbarui. Saya sangat optimistis bahwa ini akan terjadi,” tuturnya.

Seorang juru bicara Kementerian Perdagangan Tiongkok mengatakan dalam konferensi pers di Beijing pada 4 Januari bahwa sebuah kelompok kerja AS yang dipimpin oleh Wakil Perwakilan Dagang AS Jeffrey Gerrish akan mengunjungi Tiongkok pada 7-8 Januari 2019.

Langkah itu dilakukan untuk pembicaraan mengenai implementasi konsensus penting yang dicapai oleh Presiden Tiongkok Xi Jinping dan rekannya dari AS Donald Trump di Argentina pada Desember.

Hubungan dagang Tiongkok-Amerika Serikat telah terkena dampak buruk setelah pemerintahan Trump mengumumkan tarif tinggi pada ekspor Tiongkok ke Amerika Serikat senilai ratusan miliar dolar AS pada 2018.

(ABD)

Presiden Kuba Copot Menteri Keuangan

Havana: Presiden Kuba Miguel Diaz-Canel pekan ini mengganti menteri transportasi dan keuangannya dalam perombakan kabinet pertamanya sejak membentuk pemerintahan pada Juli.

Perombakan ini terjadi di tengah krisis dana tunai serta berkembangnya kekecewaan terhadap sektor transportasi di negara pulau tersebut.

Media pemerintah Kuba pada Rabu mengatakan bahwa Menteri Transportasi Adel Yzquierdo (73) dan Menteri Keuangan Lina Pedraza (63) telah dibebastugaskan dari peran mereka tanpa memberikan rincian alasan, seraya menambahkan bahwa mereka akan diberi tanggung jawab lain.

Mengutip Antara, Kamis, 10 Januari 2019, keduanya sebelumnya ditunjuk oleh mantan presiden Raul Castro dalam mandat yang diemban selama 10 tahun dan peran mereka dikuatkan kembali oleh Diaz-Canel, yang mengambil alih jabatan itu dari Castro (87) pada April.

Mereka akan digantikan oleh wakil menteri di kementerian masing-masing, Eduardo Rodriguez (52) dan Meisi Bolanos (48). Sejumlah warga Kuba mempertanyakan pengangkatan keduanya yang dianggap telah gagal dalam menjalankan strategi mereka.

Transportasi merupakan salah satu masalah utama warga Kuba yang tinggal di ibu kota, dengan sejumlah aturan baru yang sebagian besar mengurangi jumlah angkutan kota di jalanan dan lebih lanjut memicu masalah dalam sistem transportasi publik.

Banyak warga Kuba mengatakan kesulitan untuk mengakses angkutan tersebut dan memakan waktu jauh lebih lama serta biaya lebih besar untuk sampai ke tempat tujuan.

“Transportasinya sangat mengecewakan,” ujar Maritza Carrion, yang tengah menunggu bus di distrik bisnis Vedado.

Di salah satu penampilan publik terakhirnya, Yzquierdo menyampaikan melalui televisi pemerintah pada Desember bahwa Kuba mengimpor ratusan minibus dan bus untuk mengatasi kelangkaan transportasi.

Pemerintahan tersebut telah secara berkala melakukan hal itu sebelumnya, yang sebagian hanya mampu mengatasi kelangkaan transportasi cukup kronis untuk sementara waktu.

Sementara itu, maskapai nasional Kuba, Cubana, telah mengurangi penerbangan sepanjang tahun lalu akibat kekurangan pesawat yang menurut mereka diakibatkan oleh embargo perdagangan Amerika Serikat (AS) selama beberapa dekade.

Mereka juga menghadapi isu kecelakaan pesawat yang menewaskan 112 orang, insiden paling mematikan yang mereka hadapi dalam hampir 30 tahun, beberapa pekan setelah Diaz-Canel menjabat.

“Yang kita butuhkan adalah solusi nyata karena sudah hampir 60 tahun transportasi kita mengalami ketertinggalan,” ujar Yadier Osorio (41).

“Pemerintah masih belum menemukan solusi.” Berdasarkan artikel di situs web pemerintah, Cubadebate, terkait perubahan kabinet tersebut, banyak pembaca menyerukan transparansi yang lebih jelas atas keputusan tersebut. Akses Internet yang terus berkembang mendorong perdebatan publik yang kian ramai di media online dan mendorong masyarakat untuk menuntut pertanggungjawaban pejabat dalam banyak kasus.

(AHL)

Gerak Dolar AS Ambruk

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) jatuh terhadap mata uang utama lainnya pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB) menyentuh tingkat terendah baru sejak Oktober tahun lalu, setelah risalah terbaru dari pertemuan kebijakan Federal Reserve AS (Fed) mengisyaratkan berkurangnya pengetatan moneter.

Mengutip Antara, Kamis, 10 Januari 2019, indeks USD yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,72 persen menjadi 95,2150 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1544 dari USD1,1442 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2794 dari USD1,2719 pada sesi sebelumnya.

Dolar Australia naik ke USD0,7180 dibandingkan dengan USD0,7139. Dolar AS dibeli 108,26 yen Jepang, lebih rendah dibandingkan dengan 108,63 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9750 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9812 franc Swiss, dan jatuh ke 1,3221 dolar Kanada dibandingkan dengan 1,3282 dolar Kanada.

Selain itu, para investor menaruh harapan pada hasil perundingan dagang antara Amerika Serikat dan Tiongkok yang baru saja berakhir. Tidak hanya itu, investor juga tengah memerhatikan langkah selanjutnya dari kebijakan bank sentral Amerika Serikat, the Fed.

“Komite dapat bersabar tentang kebijakan lebih lanjut,” kata Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) dalam risalah pertemuan 18-19 Desember 2018.

Pernyataan itu dibuat ketika FOMC, salah satu unit the Fed yang menentukan tingkat suku bunga dan pertumbuhan uang beredar, percaya bahwa volatilitas baru-baru ini di pasar keuangan dan meningkatnya kekhawatiran tentang pertumbuhan global telah membuat tingkat dan waktu yang tepat dari kebijakan mendatang yang kurang jelas dari sebelumnya.

“Mempertimbangkan status quo pasar keuangan, komite menekankan bahwa pengetatan tambahan dalam jumlah yang relatif terbatas mungkin akan menjadi lebih tepat,” kata FOMC dalam pernyataannya.

Langkah-langkah tersebut mengindikasikan bahwa bank sentral AS kemungkinan akan melonggarkan batasannya pada uang yang mengalir di pasar, yang akibatnya akan sedikit mengurangi komparatif greenback. Sentimen investor juga tumbuh positif di tengah harapan hasil yang baik dari perundingan dagang yang baru saja diselesaikan antara AS dan Tiongkok di Beijing.

(ABD)

Bursa Wall Street Menghijau

New York: Saham-saham di Wall Street lebih tinggi pada penutupan perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB). Hal itu terjadi setelah risalah pertemuan Federal Reserve (the Fed) yang diadakan pada Desember menunjukkan bahwa bank sentral bersabar tentang penaikan suku bunga acuan.

Mengutip Antara, Kamis, 10 Januari 2019, indeks Dow Jones Industrial Average naik 91,67 poin atau 0,39 persen, menjadi berakhir di 23.879,12 poin. Indeks S&P 500 bertambah 10,55 poin atau 0,41 persen, menjadi ditutup di 2.584,96 poin. Indeks Komposit Nasdaq naik 60,08 poin atau 0,87 persen, menjadi berakhir di 6.957,08 poin.

Pejabat-pejabat the Fed mengakui bahwa jalur kebijakan ke depan kurang jelas setelah menyetujui penaikan suku bunga pada pertemuan terakhir mereka. Risalah menunjukkan penaikan suku bunga datang dengan keengganan dari beberapa anggota yang berpikir kurangnya tekanan inflasi sebagai alasan terhadap penaikan suku bunga lagi.

Risalah datang setelah Ketua the Fed Jerome Powell mengisyaratkan pengetatan moneter lebih lambat. Dia mengatakan para pejabat the Fed terus mengawasi suara-suara pasar keuangan, dan bahwa kebijakan the Fed fleksibel dan melekat pada perkembangan ekonomi terkini.

Ia menambahkan bank sentral AS tidak akan ragu untuk menyesuaikan rencana pengurangan neracanya, jika menyebabkan masalah-masalah di pasar. Ketiga indeks utama melonjak lebih dari tiga persen pada Jumat 4 Januari karena komentar Powell dan membukukan kemenangan beruntun empat hari pada penutupan Rabu 9 Januari.

Selain itu, yang juga mengangkat sentimen pasar adalah berita bahwa negosiasi perdagangan terbaru antara dua ekonomi utama dunia yakni antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok menunjukkan tanda-tanda kemajuan.

(ABD)

Harga Emas Dunia Terus Berkilau

Chicago: Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), ditopang melemahnya dolar Amerika Serikat (USD), ketika pasar mempertimbangkan pernyataan dari pejabat-pejabat Federal Reserve untuk petunjuk tentang laju kenaikan suku bunga pada 2019.

Mengutip Antara, Kamis, 10 Januari 2019, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari, naik sebanyak USD6,10 atau 0,47 persen menjadi menetap pada USD1.292,00 per ons. Indeks USD, yang mengukur mata uang greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, turun 0,66 persen menjadi 95,29 pada pukul 18.15 GMT.

Harga emas memperpanjang kenaikannya dalam perdagangan elektronik, karena risalah dari pertemuan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) Desember mengungkapkan bahwa beberapa anggota the Fed ingin mempertahankan kebijakan stabil pada Desember.

Emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan USD, yang berarti jika USD melemah maka emas berjangka akan turun, karena emas yang dihargai dalam USD menjadi murah bagi para investor yang menggunakan mata uang lainnya.

Sedangkan untuk logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret naik 2,20 sen AS atau 0,14 persen, menjadi USD15,735 per ons. Sedangkan platinum untuk pengiriman April naik sebanyak USD3,50 atau 0,43 persen menjadi ditutup pada USD825,30 per ons.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average naik 91,67 poin atau 0,39 persen, menjadi berakhir di 23.879,12 poin. Indeks S&P 500 bertambah 10,55 poin atau 0,41 persen, menjadi ditutup di 2.584,96 poin. Indeks Komposit Nasdaq naik 60,08 poin atau 0,87 persen, menjadi berakhir di 6.957,08 poin.

Pejabat-pejabat the Fed mengakui bahwa jalur kebijakan ke depan kurang jelas setelah menyetujui penaikan suku bunga pada pertemuan terakhir mereka. Risalah menunjukkan penaikan suku bunga datang dengan keengganan dari beberapa anggota yang berpikir kurangnya tekanan inflasi sebagai alasan terhadap penaikan suku bunga lagi.

(ABD)

Minyak Dunia Mulai Melonjak

New York: Harga minyak melonjak pada akhir perdagangan Rabu waktu setempat (Kamis WIB), mengirim minyak mentah di sebuah pasar bullish untuk kenaikan 23 persen dari posisi terendah pada Desember. Kondisi itu terjadi karena persediaan minyak mentah Amerika Serikat (AS) jatuh pekan lalu.

Mengutip Antara, Kamis, 10 Januari 2019, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, naik USD2,58 menjadi menetap pada USD52,36 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara itu, minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret, naik USD2,72 menjadi ditutup pada USD61,44 per barel di London ICE Futures Exchange.

Persediaan minyak mentah komersial AS turun 1,7 juta barel dalam pekan yang berakhir 4 Januari. Pada 439,7 juta barel, persediaan minyak mentah AS berada sekitar delapan persen di atas rata-rata lima tahun untuk sepanjang tahun ini, Badan Informasi Energi AS (EIA) mengatakan dalam sebuah laporan mingguan.

Penurunan persediaan terjadi di tengah meningkatnya impor minyak mentah, yang mencatat rata-rata 7,8 juta barel per hari pada pekan lalu, kata laporan itu. Hal itu, lebih lanjut, mengurangi kekhawatiran kelebihan pasokan di seluruh dunia.

Selama empat minggu terakhir, impor minyak mentah AS rata-rata mencapai sekitar 7,6 juta barel per hari, 3,6 persen lebih rendah dari periode empat minggu yang sama tahun lalu.

Momentum positif untuk minyak mentah juga didorong oleh pasar saham yang positif, yang terangkat oleh harapan-harapan hasil baik dari perundingan perdagangan yang baru saja selesai antara pejabat-pejabat perwakilan dagang Amerika Serikat dan Tiongkok di Beijing, Kementerian Luar Negeri Tiongkok mengonfirmasi.

“Hasil dari pembicaraan akan segera keluar,” kata Juru Bicara Kementerian Luar Negeri Tiongkok Lu Kang kepada wartawan.

Ia mengaku percaya jika hasil tersebut adalah hasil yang baik, tidak hanya untuk Tiongkok dan Amerika Serikat semata, tetapi juga ekonomi dunia akan mendapat keuntungan. “Pembicaraan dengan Tiongkok berjalan sangat baik!,” kata Presiden AS Donald Trump dalam cuitannya tanpa memberikan rincian.

(ABD)

Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim Pindah ke GIP

Washington: Presiden Grup Bank Dunia Dunia Jim Yong Kim akan bergabung dengan Global Infrastructure Partners (GIP). Sebuah ekuitas keuangan swasta yang berinvestasi di negara makmur dan berkembang.

Kabar itu diungkapkan perusahaan tersebut pada Selasa, 8 Januari 2019, sehari setelah pengunduran diri Kim dari Bank Dunia yang mengejutkan. Demikian seperti dikutip dari Antara, Rabu, 9 Januari 2019.

Kim, yang bergabung dengan GIP di New York pada 1 Februari sebagai rekan dan wakil presiden, dikenai larangan satu tahun untuk berhubungan dengan semua unit Bank Dunia, termasuk cabang kreditur swastanya, International Finance Corp, ungkap seseorang yang mengetahui pengaturan terkait pengunduran dirinya.

Cabang kreditur itu sebagian besar memusatkan kegiatan di pembiayaan infrastruktur seperti proyek energi, air, dan transportasi di negara-negara berkembang.

Kim mengundurkan diri lebih dari tiga tahun sebelum masa kepemimpinannya berakhir pada 2022 di tengah perbedaan pandangan dengan pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump terkait perubahan iklim dan kebutuhan sumber pembangunan yang lebih besar.

Pembicaraan antara Kim dan GIP mengenai pekerjaan barunya terjadi enam pekan lalu di konferensi tingkat tinggi G20 di Buenos Aires, tambah sumber tersebut. Kim menekankan bahwa pemanfaatan investasi sektor swasta merupakan kunci untuk pembangunan infrastruktur yang sangat dibutuhkan di tengah terbatasnya anggaran publik.

Setelah membukukan kenaikan modal sebesar USD13 miliar (sekitar Rp183,7 miliar) pada tahun lalu dan mengisi kembali posisi donor Bank Dunia untuk negara-negara paling miskin, Kim mengatakan dalam catatannya kepada staf bahwa kesempatan itu “adalah jalan tempat saya mampu membuat kontribusi besar pada masalah besar dunia seperti perubahan iklim dan defisit infrastruktur di pasar berkembang.”

Dewan Bank Dunia diperkirakan akan menggelar pertemuan pekan ini untuk membahas pengganti Kim. Meskipun Amerika Serikat (AS) biasanya mengajukan nama kepala Bank Dunia,
kebiasaan itu bisa diperdebatkan, karena pengajuan Kim yang dilakukan oleh mantan presiden Barack Obama pada 2012 sempat ditentang oleh para kandidat dari Kolombia dan Niger, di bawah proses pengajuan terbuka yang wajar.

AS memiliki hak veto di dewan Bank Dunia, dengan jumlah sekitar 16 persen dari total suara, diikuti oleh Jepang dengan 6,9 persen dan Tiongkok dengan 4,5 persen.

(AHL)

Kesepakatan Dagang AS-Tiongkok Harus Timbal Balik

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) dan Presiden AS Donald Trump. (FOTO: AFP)

Shanghai: Tiongkok tertarik untuk mengakhiri sengketa perdagangan dengan Amerika Serikat (AS). Namun tidak akan membuat “konsensi tak masuk akal” apapun dan setiap kesepakatan harus melibatkan kompromi antar kedua belah pihak.

Demikian seperti dilaporkan surat kabar nasional China Daily, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 9 Januari 2019.

Pejabat AS dan Tiongkok sedang melakukan perundingan di Beijing, yang pertama sejak Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping menyepakati gencatan senjata 90 hari dalam perang dagang yang mengacaukan pasar keuangan dunia.

Perundingan perdagangan yang berlangsung sejak Senin terus berlanjut hingga Rabu. Surat kabar China Daily menyebutkan dalam sebuah editorial tentang pendirian kuat Beijing bahwa sengketa perdagangan tersebut membahayakan kedua negara dan menganggu rantai pasokan dan ketertiban perdagangan internasional.

“Namun, pihaknya juga menjelaskan mereka tidak akan mengupayakan solusi terhadap gesekan perdagangan dengan membuat konsensi tidak masuk akal, dan kesepakatan apapun harus melibatkan timbal balik (take and give) dari kedua belah pihak,” katanya.

Presiden Trump dan sejumlah pejabat AS mengatakan pembicaraan tersebut berjalan mulus dan terdapat indikasi progres atas sejumlah isu termasuk pembelian komoditas energi dan pertanian AS serta meningkatnya akses ke sejumlah pasar Tiongkok.

Namun, orang-orang yang akrab dengan pembicaraan tersebut mengungkapkan dua negara dengan ekonomi terbesar di dunia itu semakin jauh terpisah dari reformasi struktural Tiongkok yang dituntut pemerintahan Trump agar menghentikan dugaan pencurian dan pemindahan paksa teknologi AS, serta tentang bagaimana Beijing memegang janji-janjinya tersebut.

(AHL)

Kooperatif, Kunci Sukses Kesepakatan Perang Dagang

New York: Hubungan Tiongkok dan Amerika Serikat (AS) telah menjadi kisah sukses bersama selama empat dekade terakhir. Kerja sama di antara keduanya merupakan satu-satunya pilihan tepat untuk pengembangan masa depan hubungan bilateral mereka.

“Tiongkok tetap berkomitmen untuk memperluas kerja sama dengan AS atas dasar saling menguntungkan, mengelola perbedaan atas dasar saling menghormati, dan mengembangkan hubungan dengan AS berdasarkan koordinasi yang lebih erat, kerja sama, dan stabilitas yang lebih besar,” kata Duta Besar Tiongkok untuk Amerika Serikat Cui Tiankai, seperti dilansir dari Xinhua, Rabu, 9 Januari 2019.

Cui mengatakan hal tersebut di depan 450 tamu saat menyapa gala Tahun Baru tahunan Kamar Dagang Umum Tiongkok-AS (CGCC-AS).

Menurut dia, ikatan hubungan kuat antara Tiongkok-AS harus berkembang seiring waktu yang berjalan. Mengingat perubahan besar yang telah terjadi di kedua negara dan di dunia selama beberapa dekade terakhir.

“Tapi semua ini hanya dipahami sebagai kebutuhan untuk kerja sama Tiongkok-AS yang lebih dekat,” tegasnya.

Menunjuk fakta bahwa normalisasi dan perkembangan Tiongkok-AS, hubungan ini telah menguntungkan kedua negara dan seluruh dunia.

Utusan Tiongkok menekankan perlunya kedua belah pihak pada dekade mendatang dan merencanakan pekerjaan bersama untuk kesuksesan yang lebih besar.

Diplomat berpengalaman itu juga mengatakan Tiongkok akan terus melakukan reformasi srta membuka dan mencari pembangunan yang berpusat pada orang, pembangunan berkelanjutan, dan pembangunan damai, yang akan menciptakan lebih banyak peluang bagi dunia.

Cui mendesak komunitas bisnis dari kedua negara untuk menjaga gambaran besar dalam pikiran, tetap terbuka dan memiliki pendirian yang jelas tentang apa yang benar dan apa yang salah.

Kegiatan Gala Tahun Baru, yang juga didedikasikan untuk perayaan peringatan 40 tahun normalisasi hubungan Tiongkok-AS diselenggarakan oleh CGCC-USA sebagai bagian dari tradisi tahunannya.

Didirikan pada 2005, CGCC-USA telah diakui sebagai organisasi nirlaba terbesar dan paling berpengaruh yang mewakili perusahaan Tiongkok di AS dengan jumlah anggotanya melebihi 1.500.

(AHL)

2019, Bank Dunia Perkirakan Pertumbuhan Ekonomi Global Melambat

Washington: Bank Dunia atau World Bank memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 2,9 persen pada 2019 dari revisi turun 3,0 persen pada 2018. Hal itu diyakini terjadi di tengah meningkatnya risiko-risiko penurunan.

Dalam laporan Prospek Ekonomi Global yang baru dirilis, Bank Dunia mengatakan prospek ekonomi global telah menjadi suram karena kondisi-kondisi pembiayaan global semakin ketat, ketegangan perdagangan telah meningkat, dan beberapa negara emerging market serta negara berkembang besar mengalami tekanan signifikan di pasar keuangannya.

“Menghadapi headwinds ini, pemulihan di negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang telah kehilangan momentum,” kata laporan Bank Dunia, seperti dikutip dari Antara, Rabu, 9 Januari 2019.

Bank Dunia memperkirakan negara-negara emerging market dan negara-negara berkembang tumbuh sebesar 4,2 persen pada 2019, atau 0,5 persentase poin lebih rendah dari yang diproyeksikan sebelumnya pada Juni tahun lalu.

Masih menurut laporan Bank Dunia disebutkan pertumbuhan di negara-negara maju diperkirakan melambat menjadi 2,0 persen pada 2019 dibandingkan dengan 2,2 persen pada 2018, karena bank-bank sentral utama terus menarik kebijakan moneter akomodatif mereka.

“Risiko-risiko penurunan telah menjadi lebih akut dan termasuk kemungkinan pergerakan pasar keuangan yang tidak teratur dan eskalasi sengketa perdagangan,” kata laporan itu, memperingatkan bahwa peningkatan ketegangan perdagangan dapat mengakibatkan pertumbuhan global lebih lemah dan mengganggu rantai nilai yang saling terhubung secara global.

Laporan tersebut memperkirakan bahwa pertumbuhan ekonomi Tiongkok melambat menjadi 6,2 persen pada 2019 dibandingkan dengan posisi 6,5 persen pada 2018, karena penyeimbangan kembali domestik dan eksternal berlanjut.

“Pihak berwenang di Tiongkok telah bergeser ke melonggarkan kebijakan moneter dan fiskal dalam menanggapi lingkungan eksternal yang lebih menantang. Langkah-langkah kebijakan ini sebagian besar diharapkan untuk mengimbangi dampak negatif langsung dari kenaikan tarif pada ekspor Tiongkok,” kata laporan Bank Dunia.

(ABD)

Dolar AS Hantam Poundsterling dan Euro

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) kembali menguat atau rebound pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), setelah merosot sebelumnya. Kondisi itu terjadi karena poundsterling Inggris dan euro melemah tertekan ketidakpastian Brexit dan data ekonomi yang suram.

Mengutip Antara, Rabu, 9 Januari 2019, indeks dolar AS, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama rivalnya, naik 0,25 persen menjadi 95,9044 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro turun menjadi USD1,1442 dari USD1,1478 pada sesi sebelumnya.

Pound Inggris turun menjadi USD1,2719 dari USD1,2769 pada sesi sebelumnya. Dolar Australia turun menjadi USD0,7139 dari USD0,7142. USD dibeli 108,63 yen Jepang, lebih tinggi dari 108,60 yen Jepang pada sesi sebelumnya. USD naik menjadi 0,9812 franc Swiss dari 0,9794 franc Swiss, dan melemah menjadi 1,3282 dolar Kanada dari 1,3296 dolar Kanada.

Nilai komparatif euro dengan greenback memperpanjang kerugian lebih dari 0,31 persen pada perdagangan Selasa 8 Januari, setelah anggota parlemen Inggris mulai mendebat proposal Brexit yang diusulkan Perdana Menteri Theresa May.

May masih harus berusaha keras untuk menang atas lawan-lawan tangguhnya di parleman, karena parlemen Inggris dijadwalkan akan memberikan suara tentang rencana Brexit pada 15 Januari 2019.

Sementara itu, euro telah dibebani oleh data produksi industri yang lamban dari Jerman, ekonomi terbesar Eropa, sehingga meningkatkan kekhawatiran atas perlambatan pertumbuhan ekonomi zona euro.

Produksi industri turun 1,9 persen pada November tahun lalu, Kantor Statistik Federal Jerman mengatakan, berlawanan dengan ekspektasi pasar sebelumnya untuk kenaikan 0,3 persen dan menandai penurunan bulanan ketiga berturut-turut.

(ABD)

Penguatan Saham Apple-Facebook Dorong Wall Street Menghijau

New York: Indeks S&P 500 di Wall Street melonjak ke level tertinggi tiga minggu pada penutupan perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), dipimpin oleh Apple, Amazon, Facebook dan saham-saham industri. Kondisi itu terjadi di tengah spekulasi bahwa Amerika Serikat dan Tiongkok akan mencapai kesepakatan untuk mengakhiri perang dagang mereka.

Mengutip Antara, Rabu, 9 Januari 2019, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1,09 persen menjadi berakhir pada 23.787,45 poin, sedangkan S&P 500 naik 0,97 persen menjadi 2.574,41 poin, dan Komposit Nasdaq menambahkan 1,08 persen menjadi 6.897,00 poin. Sektor keuangan adalah satu-satunya komponen indeks S&P yang tidak naik.

Reli tiga hari dimulai pada Jumat, 4 Januari setelah data pekerjaan AS yang kuat dan komentar dovish tentang suku bunga oleh Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell telah mengangkat S&P 500 lebih dari sembilan persen dari posisi terendah 20 bulan yang tersentuh sekitar Natal. Indeks S&P 500 telah menguat dalam tujuh sesi dari sembilan sesi terakhir.

Amerika Serikat dan Tiongkok akan memperpanjang perundingan perdagangan di Beijing untuk hari ketiga yang tidak dijadwalkan, kata seorang anggota delegasi AS, ketika dua negara ekonomi terbesar di dunia itu berusaha menyelesaikan sengketa perdagangan yang getir. Sejauh ini, para pejabat dari kedua belah pihak terdengar optimistis.

“Anda sedang melihat beberapa negosiasi terjadi dan pasar mulai berpikir bahwa mungkin kita akan mulai melihat penyusunan kerangka kerja,” kata Kepala Ekuitas Global PineBridge Investments Anik Sen. Sektor industri S&P yang sensitif terhadap perdagangan naik 1,41 persen.

Saham Boeing Co melonjak 3,79 persen, memberikan kontribusi terbesar terhadap kenaikan Dow Jones, setelah perusahaan mengatakan telah membuat rekor dengan mengirimkan 806 pesawat pada 2018. Apple Inc naik 1,91 persen, mendapatkan kembali kekuatannya setelah pekan lalu memperingatkan permintaan yang lebih lemah untuk iPhone-nya.

Tetapi kenaikan sektor teknologi dibatasi oleh penurunan saham-saham produsen cip, setelah Samsung menyalahkan penurunan laba kuartalan sekitar 29 persen karena permintaan cip yang lemah. Indeks Philadelphia Semiconductor turun 0,49 persen. Menambah kesengsaraan, Goldman Sachs meramalkan tahun yang sulit bagi para pembuat cip, terutama di paruh pertama.

(ABD)

Ditekan USD, Harga Emas Dunia Menyusut

Chicago: Emas berjangka di divisi COMEX New York Mercantile Exchange naik tipis pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB). Hal itu terjadi karena logam mulia berada di bawah tekanan dolar Amerika Serikat (USD) yang lebih kuat serta kenaikan indeks-indeks utama saham AS.

Mengutip Antara, Rabu, 9 Januari 2019, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari turun USD4,00 atau 0,31 persen menjadi menetap di USD1.285,00 per ons. Indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, naik sebanyak 0,19 persen menjadi 95,88 pada pukul 18.15 GMT.

Emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan USD, yang berarti jika USD menguat maka emas berjangka akan turun, karena emas yang dihargai dalam USD menjadi mahal bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.

Sementara itu, indeks Dow Jones Industrial Average bertambah 164,68 poin atau 0,70 persen pada pukul 18.10 GMT. Indeks S&P 500 dan Nasdaq juga mengikuti kenaikan Dow. Ketika ekuitas membukukan keuntungan, investor dapat berhenti membeli aset-aset safe haven seperti emas.

Sedangkan untuk logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun sebanyak 4,30 sen AS atau 0,27 persen, menjadi USD15,713 per ons. Sedangkan platinum untuk pengiriman April turun sebanyak USD2,50 atau 0,30 persen menjadi ditutup pada USD821,80 per ons.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average melonjak 1,09 persen menjadi berakhir pada 23.787,45 poin, sedangkan S&P 500 naik 0,97 persen menjadi 2.574,41 poin, dan Komposit Nasdaq menambahkan 1,08 persen menjadi 6.897,00 poin. Sektor keuangan adalah satu-satunya komponen indeks S&P yang tidak naik.

Reli tiga hari dimulai pada Jumat 4 Januari setelah data pekerjaan AS yang kuat dan komentar dovish tentang suku bunga oleh Ketua Federal Reserve AS Jerome Powell telah mengangkat S&P 500 lebih dari sembilan persen dari posisi terendah 20 bulan yang tersentuh sekitar Natal. Indeks S&P 500 telah menguat dalam tujuh sesi dari sembilan sesi terakhir.

(ABD)

Harga Minyak Dunia Naik ke USD58,72/Barel

New York: Harga minyak dunia naik lebih dari dua persen pada akhir perdagangan Selasa waktu setempat (Rabu WIB), didukung oleh harapan bahwa permintaan minyak mentah dapat naik lebih cepat jika perundingan antara pejabat-pejabat Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok bisa menyelesaikan perselisihan perdagangan antara dua ekonomi terbesar dunia itu.

Minyak mentah berjangka AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari, meningkat sebanyak USD1,26 atau 2,6 persen menjadi menetap pada USD49,78 per barel di New York Mercantile Exchange. Selama sesi, kontrak sempat menyentuh USD49,95, tertinggi sejak 17 Desember.

Mengutip Antara, Rabu, 9 Januari 2019, sementara itu, patokan internasional, minyak mentah berjangka Brent untuk pengiriman Maret, naik sebanyak USD1,39 atau 2,4 persen menjadi ditutup pada posisi USD58,72 per barel di London ICE Futures Exchange.

“Situasi perdagangan pastinya bullish. Anda memiliki konstruksi permintaan yang baik jika kami dapat menyelesaikan kesepakatan perdagangan ini,” kata Direktur Berjangka Mizuho di New York, Bob Yawger.

“Perundingan berlangsung baik sejauh ini dan akan berlanjut pada Rabu 9 Januari,” kata Anggota Delegasi AS Steven Winberg.

Ini adalah pertemuan tatap muka pertama antara pejabat-pejabat dari kedua negara, sejak Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Desember sepakat untuk gencatan senjata 90 hari dalam perang dagang yang telah menggemparkan pasar keuangan global.

Pada Senin 7 Januari, Menteri Perdagangan AS Wilbur Ross dan Kementerian Luar Negeri Tiongkok menyatakan optimisme untuk menyelesaikan perselisihan. Akan tetapi, beberapa analis memperingatkan bahwa ketegangan dapat terjadi lagi.

Para pedagang minyak juga khawatir bahwa kemungkinan perlambatan ekonomi dunia bisa mengurangi konsumsi bahan bakar. Hedge fund industri telah memangkas secara signifikan posisi bullish dalam minyak mentah berjangka.

(ABD)

Daftar Maskapai Paling Tepat Waktu di Asia Pasifik

Singapura: OAG Punctuality League 2019 kembali menobatkan Hong Kong Airlines sebagai maskapai penerbangan yang paling tepat waktu di Asia Pasifik, dan ketiga di dunia.

OAG Punctuality League 2019, merupakan daftar on-time performance (OTP) tahunan yang paling komprehensif untuk maskapai penerbangan dan bandara di seluruh dunia. Demikian seperti dikutip dari Antara, Jumat, 4 Januari 2019.

Berikut beberapa poin penting dalam daftar tersebut:
– Hong Kong Airlines (ketiga).
– Bangkok Airways (kelima).
– Qantas Airways (keenam) menempati posisi top 10.
– Japan Airlines dan ANA masing-masing menempati posisi kedua dan ketiga dalam kategori maskapai mega global.
– Tokyo Haneda menjadi bandara berukuran mega (melayani lebih dari 30 juta kursi) yang paling tepat waktu.

Sementara itu, bandara Osaka menjadi bandara berukuran besar (melayani 10-20 juta kursi) yang paling tepat waktu, dan Sapporo dan Fukuoka berada di peringkat 10 besar.

– Tiga maskapai terbesar Tiongkok: China Southern (ke-15), China Eastern (ke-17), dan Air China (ke-19) menunjukkan perbaikan dalam hal ketepatan waktu selama 2018.

– Tiga pendatang baru, Bangkok Airways, Air Astana, dan Solaseed, berhasil masuk ke dalam daftar 10 besar OTP di Asia Pasifik.

– Maskapai asal India, IndiGo, menempati peringkat ke-7 dalam kategori LCC (maskapai berbiaya rendah) dunia, sebuah pencapaian yang impresif mengingat maskapai ini mengoperasikan penerbangan 28 persen lebih banyak dibandingkan 2017.

Regional Sales Director JAPAC OAG Mayur Patel mengatakan kawasan Asia Pasifik tetap menjadi pasar penerbangan dengan pertumbuhan terpesat di dunia dengan total 12,6 juta penerbangan selama 2018, merepresentasikan 6,3 persen peningkatan dari 2017.

Lebih lanjut, sekitar 2,1 juta kursi tersedia selama setahun penuh, naik drastis sebesar 7,3 persen dalam hal kapasitas. Mengingat tingginya tekanan akan peningkatan infrastruktur dan layanan,
para maskapai dan bandara terkemuka di Asia Pasifik, sekali lagi, berhasil membuktikan keunggulan mereka.

Maskapai Asia Pasifik Teratas untuk Ketepatan Waktu (OTP) Ranking  Maskapai OTP 2018:
1. Hong Kong Airlines 88,11 persen.
2. Bangkok Airways 87,16 persen.
3. Qantas Airways 85,65 persen.
4. All Nippon Airways 84,43 persen.
5. Jetstar Asia 84,13 persen.
6. Japan Airlines 83,99 persen.
7. Air Astana 83,52 persen.
8. Singapore Airlines 83,46 persen.
9. Solaseed 82,90 persen.
10. IndiGo 81,70 persen.

(AHL)

Harga Minyak Dunia di Akhir 2018 Lebih Rendah

Ilustrasi (FREDERIC J. BROWN/AFP)

Houston: Badan Informasi Energi AS (EIA) melaporkan harga untuk kedua minyak mentah acuan mengakhiri perdagangan 2018 dengan lebih rendah dari posisi mereka pada awal 2018. Sejauh ini, pasar minyak terus berfluktuasi terutama disebabkan oleh tidak menentunya perekonomian dunia.

Mengutip Antara, Jumat, 4 Januari 2019, minyak mentah Brent mengakhiri tahun lalu di USD54 per barel atau USD13 per barel lebih rendah dari awal 2018. Sedangkan minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) mengakhiri tahun di USD45 per barel atau USD15 per barel lebih rendah dari awal 2018.

Di 2018 menandai pertama kalinya sejak 2015 bahwa harga-harga minyak mentah acuan ini mengakhiri tahun dengan harga lebih rendah daripada di awal tahun. Pada 2018, minyak mentah Brent rata-rata mencapai USD72 per barel, sementara WTI rata-rata mencapai USD65 per barel.

Brent dan WTI masing-masing mencapai harga tertinggi mereka selama tahun lalu pada 3 Oktober, masing-masing di posisi USD86 per barel dan USD76 per barel. Sejauh ini, negara anggota OPEC dan sekutunya terus memacu agar harga minyak dunia bisa lebih tinggi.

Harga untuk setiap minyak mentah turun dengan cepat setelah itu. Pada 24 Desember, Brent mencapai titik terendah tahunan di USD50 per barel dan WTI mencapai titik terendah tahunan di USD43 per barel.

Dalam upaya untuk membatasi pasokan berlebih, pada 7 Desember 2018, OPEC dan negara-negara penghasil lainnya termasuk Rusia mengumumkan akan memangkas produksi sebesar 1,2 juta barel per hari dari level Oktober 2018 selama enam bulan pertama 2019.

(ABD)

Saham AS Merekah, Dow Jones Melesat 746 Poin

New York: Saham-saham di bursa Wall Street ditutup naik tajam pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), berakhir pekan ini dengan catatan yang tinggi. Kondisi itu terjadi setelah saham-saham teknologi menguat, pasar kerja tetap menanjak, dan Federal Reserve AS mengisyaratkan pengetatan kebijakan moneter yang lebih lambat.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 5 Januari 2019, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup 746,94 poin atau 3,29 persen dan berada di level 23.433,16. S&P 500 melonjak 85,05 poin atau 3,43 persen menjadi 2.531,94. Indeks Komposit Nasdaq naik 275,35 poin atau 4,26 persen menjadi 6.738,86.

Ketua the Fed Jerome Powell menenangkan kekhawatiran pasar yang tumbuh setelah Apple memangkas perkiraan pendapatan kuartalan yang menimbulkan kerugian besar di tiga indeks utama. Powell menekankan bahwa para pejabat the Fed cukup sabar dan mengawasi dengan cermat suara-suara di pasar keuangan.

Selain itu, Powell juga menyebut kebijakan the Fed terbilang fleksibel dan melekat pada perkembangan ekonomi terkini. Dalam artian, the Fed tetap mengambil kebijakan sesuai dengan situasi dan kondisi perekonomian, terutama dari sisi lapangan kerja, tingkat inflasi, dan pertumbuhan.

“Seperti biasa, tidak ada jalur untuk menetapkan sebuah kebijakan. Dan khususnya dengan pembacaan inflasi yang rendah telah datang, kita akan bersabar untuk melihat bagaimana ekonomi berkembang,” kata Powell, bersama dengan pendahulunya Janet Yellen dan Ben Bernanke pada pertemuan tahunan American Economic Association, di Atlanta.

Dia menambahkan bank sentral AS tidak akan ragu untuk menyesuaikan rencana pengurangan neraca jika itu menyebabkan masalah di pasar. Artinya, the Fed berarti mengubah program pembelian obligasi besar-besaran yang awalnya dilaksanakan pada akhir 2008 untuk menyelamatkan sistem keuangan AS yang runtuh.

“Jika kita sampai pada kesimpulan bahwa setiap aspek dari rencana kita menyebabkan masalah maka kita tidak akan ragu untuk mengubahnya,” tukasnya.

Di sisi ekonomi, Biro Statistik Tenaga Kerja di bawah Departemen Tenaga Kerja mengungkapkan, data ketenagakerjaan yang lebih kuat dari perkiraan membantu memulihkan kembali ekonomi AS. Total pekerjaan penggajian nonpertanian meningkat sebesar 312 ribu pada Desember, mengalahkan ekspektasi pasar atas 176 ribu pekerjaan.

(ABD)

Harga Emas Dunia Meredup

Chicago: Emas berjangka di divisi Comex New York Mercantile Exchange mundur pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena saham Amerika Serikat (AS) melonjak setelah laporan pekerjaan yang kuat.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 5 Januari 2019, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari turun USD9,00 atau 0,7 persen menjadi menetap di USD1.285,80 per ons. Ketika ekuitas membukukan kenaikan signifikan, logam mulia biasanya turun, karena investor tidak perlu mencari tempat yang aman.

Indeks Dow Jones Industrial Average menguat lebih dari tiga persen pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), sebagai tanggapan terhadap laporan pekerjaan yang lebih baik dari perkiraan yang dirilis oleh Departemen Tenaga Kerja Amerika Serikat.

Menurut data resmi terbaru, total pekerjaan penggajian nonpertanian meningkat 312 ribu pada Desember 2018, jauh lebih tinggi dari yang diharapkan. Selain Dow Jones yang melesat, indeks komposit S&P 500 dan Nasdaq juga mencatat kenaikan tajam setelah laporan perekrutan yang kuat.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun sebanyak 1,1 sen atau 0,07 persen menjadi ditutup pada USD15,786 per ons. Sedangkan platinum untuk pengiriman April naik sebanyak USD27,9 atau 3,49 persen menjadi USD827,20 per ons.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup 746,94 poin atau 3,29 persen dan berada di level 23.433,16. S&P 500 melonjak 85,05 poin atau 3,43 persen menjadi 2.531,94. Indeks Komposit Nasdaq naik 275,35 poin atau 4,26 persen menjadi 6.738,86.

Ketua the Fed Jerome Powell menenangkan kekhawatiran pasar yang tumbuh setelah Apple memangkas perkiraan pendapatan kuartalan yang menimbulkan kerugian besar di tiga indeks utama. Powell menekankan bahwa para pejabat the Fed cukup sabar dan mengawasi dengan cermat suara-suara di pasar keuangan.

(ABD)

Minyak Dunia Menguat

New York: Harga minyak dunia menguat pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena jumlah rig pengeboran Amerika Serikat (AS) yang aktif untuk minyak menurun setelah dua minggu berturut-turut naik. Selain itu, harga minyak juga didorong oleh tanda-tanda penurunan produksi di antara produsen minyak utama.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 5 Januari 2019, minyak West Texas Intermediate untuk pengiriman Februari naik USD0,87 menjadi di USD47,96 per barel di New York Mercantile Exchange. Sementara minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret naik USD1,11 menjadi ditutup pada USD57,06 per barel di London ICE Futures Exchange.

Perusahaan jasa ladang minyak Baker Hughes mengatakan dalam laporan mingguannya jumlah rig yang beroperasi di ladang minyak AS menurun sebanyak delapan menjadi total 877 rig di minggu ini. Jumlah total rig aktif AS, tambah Baker Hughes, yang mencakup rig minyak dan gas alam, juga turun delapan menjadi 1.075.

Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak (OPEC) memompa sebanyak 32,68 juta barel per hari (bpd) pada bulan lalu atau turun sebanyak 460 ribu barel per hari dari November dan penurunan bulan ke bulan terbesar sejak Januari 2017.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup 746,94 poin atau 3,29 persen dan berada di level 23.433,16. S&P 500 melonjak 85,05 poin atau 3,43 persen menjadi 2.531,94. Indeks Komposit Nasdaq naik 275,35 poin atau 4,26 persen menjadi 6.738,86.

Ketua the Fed Jerome Powell menenangkan kekhawatiran pasar yang tumbuh setelah Apple memangkas perkiraan pendapatan kuartalan yang menimbulkan kerugian besar di tiga indeks utama. Powell menekankan bahwa para pejabat the Fed cukup sabar dan mengawasi dengan cermat suara-suara di pasar keuangan.

Selain itu, Powell juga menyebut kebijakan the Fed terbilang fleksibel dan melekat pada perkembangan ekonomi terkini. Dalam artian, the Fed tetap mengambil kebijakan sesuai dengan situasi dan kondisi perekonomian, terutama dari sisi lapangan kerja, tingkat inflasi, dan pertumbuhan.

(ABD)

USD Kehilangan Tenaga Usai Pernyataan Ketua Fed

New York: Dolar Amerika Serikat (USD) melemah pada Jumat waktu setempat (Sabtu WIB), karena pernyataan dovish Ketua Federal Reserve Jerome Powell tentang penaikan suku bunga acuan, ditambah dengan data pekerjaan yang kuat mengurangi permintaan pedagang untuk safe haven.

Mengutip Xinhua, Sabtu, 5 Januari 2019, indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama, turun 0,13 persen menjadi 96,1871 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1398 dari USD1,1391 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2740 dari USD1,2629 pada sesi sebelumnya.

Sedangkan dolar Australia naik menjadi USD0,7116 dibandingkan dengan USD0,7002. Kemudian USD membeli 108,52 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 107,75 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9864 franc Swiss dari 0,9885 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3394 dolar Kanada dari 1,3480 dolar Kanada.

Powell menyatakan bank sentral AS akan tetap sabar dalam menaikkan suku bunga acuan. Dia menekankan langkah the Fed di masa depan akan tergantung pada bagaimana ekonomi AS berkembang. Artinya, penaikan suku bunga acuan akan melihat lebih dahulu bagaimana sejumlah indikator perekonomian bergerak.

Sementara itu, data pekerjaan yang optimistis membantu mengurangi kekhawatiran bahwa ekonomi AS berisiko tergelincir ke dalam resesi selama dua tahun ke depan. Sedangkan Departemen Tenaga Kerja mengatakan total pekerjaan penggajian nonpertanian AS meningkat sebesar 312 ribu pada Desember, melebihi ekspektasi pasar.

Di sisi lain, indeks Dow Jones Industrial Average ditutup 746,94 poin atau 3,29 persen dan berada di level 23.433,16. S&P 500 melonjak 85,05 poin atau 3,43 persen menjadi 2.531,94. Indeks Komposit Nasdaq naik 275,35 poin atau 4,26 persen menjadi 6.738,86.

Ketua the Fed Jerome Powell menenangkan kekhawatiran pasar yang tumbuh setelah Apple memangkas perkiraan pendapatan kuartalan yang menimbulkan kerugian besar di tiga indeks utama. Powell menekankan bahwa para pejabat the Fed cukup sabar dan mengawasi dengan cermat suara-suara di pasar keuangan.

(ABD)

Kinerja Manufaktur Tiongkok Memburuk di Desember 2018

Beijing: Hasil survei pribadi pada manufaktur Tiongkok untuk Desember menunjukkan pelemahan untuk pertama kalinya dalam 19 bulan di tengah sengketa perdagangan dengan Amerika Serikat (AS). Meski sudah ada gencatan senjata, namun kata sepakat belum tercapai yang akhirnya masih membebani aktivitas perekonomian.

Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Caixin/Markit (PMI), survei swasta, turun menjadi 49,7 pada Desember dibandingkan dengan posisi 50,2 pada November. Analis dalam jajak pendapat memperkirakan PMI berada di 50,1 pada Desember. Angka di atas 50 mengindikasikan ekspansi, sementara angka di bawah level itu menandakan kontraksi.

Pada Desember, dua langkah terpisah untuk pesanan baru dan pesanan ekspor baru menunjukkan kontraksi, survei Caixin menunjukkan. Hal itu tentu sangat disayangkan dan perlu ada upaya memperbaiki secara maksimal agar tidak memberikan katalis negatif terhadap perekonomian Tiongkok di masa mendatang.

“Itu menunjukkan permintaan eksternal tetap lemah karena gesekan perdagangan antara Tiongkok dan AS, sementara permintaan domestik terus melemah,” tulis Direktur Analisis Ekonomi Makro CEBM Group, anak perusahaan Caixin, Zhengsheng Zhong, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019.

Data ekonomi dari ekonomi terbesar kedua di dunia sedang diawasi ketat untuk tanda-tanda kerusakan yang ditimbulkan oleh perang perdagangan yang sedang berlangsung antara Washington dan Beijing. Sejauh ini, perang dagang masih terus terjadi dan kedua negara masih belum menemukan kata sepakat.

PMI manufaktur yang resmi dirilis menunjukkan adanya perlambatan aktivitas untuk Desember, karena sektor ini berkontraksi untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun, turun di bawah level kritis 50. Survei pribadi berfokus pada perusahaan kecil dan menengah, sedangkan ukuran PMI resmi berfokus pada perusahaan besar dan perusahaan milik negara.

“Penurunan PMI Tiongkok mengkhawatirkan karena akan ada dampak yang lebih luas pada eksportir Asia,” kata Kepala Ekonomi dan Strategi Mizuho Bank Wisnu Varathan.

Pada awal Desember, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping menyetujui gencatan senjata selama 90 hari yang artinya menunda rencana penaikan tarif AS atas barang-barang Tiongkok senilai USD200 miliar yang pada awalnya akan mulai berlaku pada 1 Januari, sementara kedua belah pihak menegosiasikan kesepakatan perdagangan.

(ABD)

Dampak Jika OPEC Tidak Pangkas Produksi Minyak

New York: JP Morgan mengungkapkan jika Organisasi Negara-Negara Pengekspor Minyak atau Organization of the Petroleum Exporting Countries (OPEC) tidak menindaklanjuti komitmennya untuk mengurangi produksi minyak sepanjang tahun ini, maka harga minyak mentah Brent bisa berjuang untuk naik.

Dalam pertemuan di awal Desember, OPEC dan negara-negara non-OPEC sepakat untuk memangkas sekitar 1,2 juta barel per hari dari pasar minyak -awalnya selama enam bulan- mulai Januari, di tengah ketidakseimbangan yang terus-menerus terjadi antara pasokan dan permintaan minyak global.

Kepala JP Morgan untuk Minyak dan Gas Asia Pasifik Scott Darling mengatakan jika OPEC tidak benar-benar memotong produksi minyak lebih dari 1,2 juta barel per hari maka memiliki pengaruh terhadap stabilitas dan harga minyak di masa mendatang. Tidak ditampik, harga minyak sedang tidak menentu sekarang ini.

“Jika mereka melakukannya hanya untuk paruh pertama, (tidak) selama setahun penuh (dalam memangkas produksi minyak), kita bisa condong ke skenario harga rendah minyak kita yaitu USD55 untuk Brent pada 2019,” kata Scott Darling, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019.

Darling menyebut ada faktor-faktor yang membuat harga minyak tetap lemah pada 2019. Kondisi itu sejalan dengan permintaan minyak mentah yang lesu dan ketidakpastian atas kepatuhan penuh dari anggota OPEC, termasuk produsen terbesar Arab Saudi atas pengurangan pasokan 1,2 juta barel yang disepakati per hari.

Dalam beberapa bulan terakhir, Arab Saudi meningkatkan produksi lebih dari 1 juta barel per hari. Sekarang, kerajaan memiliki tujuan untuk memotong sekitar 900 ribu barel per hari hanya dalam dua bulan. Dengan harga minyak yang sedang berjuang, beberapa mengatakan kerajaan membutuhkan minyak Brent naik secara signifikan untuk menyeimbangkan anggaran.

Tahun lalu, harga minyak menderita kerugian tahunan terburuk sejak 2015 -Brent turun sekitar hampir 20 persen sementara minyak mentah Amerika Serikat (AS) mengalami penurunan sekitar 25 persen karena volatilitas pasar saham, geopolitik, dan prediksi pelunakan permintaan mengguncang pasar energi.

“Di beberapa bagian dunia, Anda masih memiliki infrastruktur minyak yang menua, yang mengarah pada pemeliharaan yang tidak direncanakan. Hanya membutuhkan beberapa peristiwa ini dan Anda tiba-tiba mendapatkan lebih banyak dukungan untuk harga minyak,” pungkasnya.

(ABD)

The Fed Dinilai Kehilangan Kemampuan Kendalikan Suku Bunga

New York: Mantan Ketua Komite Perbankan Senat Phil Gramm menilai Federal Reserve dalam bahaya karena kehilangan kendali tentang bagaimana upaya menetapkan suku bunga acuan. Sejauh ini, the Fed sudah beberapa kali menaikkan suku bunga guna menjaga agar perekonomian Amerika Serikat (AS) tidak “kepanasan”.

Phil Gramm yang juga dari Partai Republik Texas menambahkan bahwa usaha bank sentral AS untuk menormalkan kebijakan suku bunga sementara itu juga telah mengurangi ukuran dana di sekuritas yang dipegangnya. Artinya, penaikan suku bunga acuan ke depan tidak semudah dilakukan seperti di 2018.

Dalam sebuah tulisan yang ditulis bersama dengan Thomas S Saving, mantan Direktur Pusat Penelitian Perusahaan Swasta Universitas A&M Texas, Gramm mencatat adanya debat yang semakin intensif tentang apakah the Fed harus menaikkan suku bunga acuan atau tidak. Apalagi, Presiden AS Donald Trump terus mengkritik the Fed.

Mengutip CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019, bank sentral AS telah menaikkan suku bunga acuannya sebanyak empat kali pada 2018 dan mengurangi jumlah surat berharga termasuk surat berharga yang didukung hipotek yang dimilikinya sebesar USD136 miliar atau 3,4 persen menjadi sebesar USD3,88 triliun.

Presiden AS Donald Trump telah berulang kali mengkritik keputusan Ketua the Fed Jerome Powell dan rekan-rekannya karena memilih mengetatkan kebijakan. Pasar saham pun akhirnya berada dalam kekacauan, dengan saham-saham terancam akan jatuh ke wilayah pasar beruang.

“Luar biasa, debat ini terjadi pada saat the Fed -dibelenggu oleh kepemilikan asetnya yang membengkak dan cadangan berlebih yang dihasilkan sistem perbankan- memiliki kemampuan yang lebih rendah untuk mengendalikan suku bunga daripada yang pernah terjadi dalam 105 tahun sejarahnya,” kata Gramm.

Masalahnya adalah tindakan penyeimbangan yang harus dilakukan oleh the Fed, karena berupaya menormalisasi kebijakan untuk melakukan akomodasi secara ekstrem dari krisis keuangan dan tahun-tahun sesudahnya. Adapun the Fed telah bersamaan menaikkan suku bunga dan mengurangi obligasi yang dimilikinya di neraca.

(ABD)

Langkah Bank Sentral Eropa Selamatkan Bank Italia

Brussels: Bank sentral Eropa atau European Central Bank (ECB) telah menunjuk administrator sementara untuk pemberi pinjaman Italia Banca Carige. Adapun kinerja Italia Banca Carige menjadi bermasalah akibat keputusan yang diambil setelah mayoritas anggota dewan bank mengundurkan diri.

ECB mengatakan dalam sebuah pernyataan bahwa mereka telah menunjuk tiga administrator sementara dan komite pengawasan untuk menggantikan dewan direksi dan untuk mengambil alih Banca Carige. Langkah tersebut diharapkan bisa menyelesaikan sejumlah persoalan yang melanda Banca Carige.

“Pengunduran diri mayoritas dewan membuat instalasi administrasi sementara diperlukan untuk mengarahkan bank menstabilkan kinerjanya dan mengejar solusi yang efektif untuk memastikan stabilitas dan kepatuhan yang berkelanjutan,” kata ECB, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019.

ECB menunjuk Fabio Innocenzi, Pietro Modiano, dan Raffaele Lener sebagai administrator sementara bank. Administrator sementara ditugaskan menjaga stabilitas bank dengan memonitor situasinya secara cermat dan secara terus-menerus memberi tahu ECB.

“Dan jika perlu mengambil tindakan untuk memastikan bahwa bank mengembalikan kepatuhan dengan persyaratan modal secara berkelanjutan,” kata ECB.

Saham pemberi pinjaman Italia lainnya turun setelah pengumuman, dengan UBI Banca turun 3,8 persen dan BPER Banca turun 3,4 persen. Sebelumnya, pengawas pasar Italia Consob mengatakan telah menangguhkan perdagangan saham Banca Carige selama sehari. Adapun Carige meminta penangguhan perdagangan sahamnya menjelang pernyataan tentang tata kelola.

Bank yang berbasis di Genoa bulan lalu gagal memenangkan dukungan pemegang saham untuk masalah saham senilai 400 juta euro (USD459 juta) yang merupakan bagian dari rencana penyelamatan yang dibiayai oleh pemberi pinjaman Italia untuk melindungi industri dari risiko kehancuran perbankan lain.

ECB yang mengawasi langsung bank terbesar ke-10 di Italia, telah memberitahu Carige untuk menyelesaikan rencana penguatan modalnya dan melakukan aksi korporasi berupa merger dengan mitra yang lebih kuat. ECB berharap persoalan di Carige bisa terselesaikan dengan baik.

(ABD)

Harga Energi AS Ambruk di Kuartal IV-2018

Houston: Administrasi Informasi Energi atau Energy Information Administration (EIA) Amerika Serikat (AS) mencatat harga komoditas energi pada kuartal IV-2018 turun secara signifikan. Indeks energi spot di S&P Goldman Sachs Commodity Index (GSCI) mengakhiri tahun ini 21 persen lebih rendah dibandingkan dengan awal tahun.

Mengutip CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019, meski semua komponen S&P GSCI turun pada 2018, tetapi indeks energi S&P GSCI turun lebih banyak dibandingkan dengan indeks lainnya. Penurunan tajam dalam harga minyak mentah dan produk minyak bumi pada kuartal keempat 2018 berkontribusi pada penurunan indeks energi S&P GSCI.

West Texas Intermediate (WTI) dan Brent, dua tolok ukur minyak mentah utama, menyumbang sebanyak 71 persen dari bobot dalam indeks energi S&P GSCI. Akibatnya, indeks energi cenderung mengikuti pergerakan harga utama di pasar minyak mentah.

Untuk sebagian besar di 2018, harga minyak mentah naik karena potensi peningkatan kendala pasokan dan penurunan persediaan minyak bumi global. Minyak mentah Brent mencapai level tertinggi empat tahun di posisi USD86 per barel pada 3 Oktober 2018.

Namun, beberapa faktor berkontribusi terhadap penurunan tajam harga minyak mentah berikutnya. Sementara itu, produksi minyak mentah di Amerika Serikat, Rusia, dan Arab Saudi meningkat atau mendekati rekor tertinggi.

Sedangkan kekhawatiran tentang perlambatan pertumbuhan ekonomi global dan dampaknya terhadap permintaan minyak berkontribusi terhadap penurunan harga minyak mentah baru-baru ini. Produk berbasis minyak bumi menyumbang 22 persen dari indeks energi S&P GSCI pada 2018, dan gas alam menyumbang tujuh persen sisanya.

Komponen sebelumnya mengalami penurunan harga, sementara yang terakhir relatif stabil. S&P GSCI adalah rata-rata tertimbang dari harga komoditas yang dimaksudkan untuk mencerminkan jumlah produksi komoditas global dan volume perdagangan kontrak berjangka. Bobot yang terkait dengan komoditas individu dalam S&P GSCI diperbarui setiap tahun.

(ABD)

Pertumbuhan Ekonomi Global Diyakini Melambat di 2019

New York: UBS memperkirakan pertumbuhan ekonomi global melambat pada 2019. Kondisi itu dinilai akan terjadi seiring kebijakan moneter yang lebih ketat, pertumbuhan pendapatan yang lebih lemah, dan tantangan politik yang dihadapi ekonomi utama dunia.

Setelah melihat pertumbuhan ekonomi di angka 3,8 persen pada 2018, UBS mengatakan dalam prospeknya, untuk tahun mendatang pertumbuhan ekonomi global melambat menjadi 3,6 persen pada 2019. Adapun perang dagang yang terjadi antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok turut membebani pertumbuhan ekonomi dunia.

“Prospek kami adalah bahwa pertumbuhan ekonomi AS akan dibatasi oleh meledaknya stimulus fiskal dan suku bunga yang lebih tinggi,” kata ekonom di UBS, dalam sebuah catatan, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019.

Sementara itu, Tiongkok menghadapi tekanan ganda dari tarif impor AS dan penyeimbangan kembali ekonomi. “Penurunan pertumbuhan ekonomi dunia mengartikan daya penarik lebih lemah di pasar global. Mulai dapat diantisipasi dari siklus ekonomi ketika 2019 berlangsung,” kata UBS

Sedangkan permintaan domestik yang kuat di zona euro tidak akan cukup untuk mengimbangi penurunan pertumbuhan ekspor. Sisi baiknya, UBS mengatakan, resesi tampaknya tidak mungkin terjadi mengingat tingkat konsumsi, investasi, dan pertumbuhan lapangan kerja saat ini diyakini tidak turun tajam di 2019.

“Basis kasus kami adalah agar inflasi tetap terkendali, yang memungkinkan bank sentral tetap peka terhadap pertumbuhan. Kami tidak melihat perubahan kebijakan fiskal besar atau guncangan harga komoditas. Neraca konsumen dalam kondisi solid dan peningkatan kapitalisasi sektor perbankan sejak krisis keuangan mengurangi risiko krisis kredit global,” tuturnya.

Lebih lanjut, UBS mengungkapkan, pertumbuhan ekonomi dan pendapatan berkurang secara agregat. Tetapi perlambatan ini tidak akan dirasakan secara seragam oleh setiap negara, sektor, atau perusahaan. UBS mengharapkan pertumbuhan yang kuat di perusahaan-perusahaan yang terpapar tren sekuler seperti pertumbuhan populasi, penuaan, dan urbanisasi.

“Sementara itu, beberapa aset sudah mulai menjadi faktor dalam latar belakang yang lebih menantang,” pungkasnya.

(ABD)

Minggu Depan, Delegasi AS Kunjungi Tiongkok Bahas Perdagangan

New York: Delegasi dari Amerika Serikat (AS) dijadwalkan mengunjungi Tiongkok pada minggu depan. Pertemuan itu untuk pembicaraan tatap muka pertama sejak Presiden AS Donald Trump dan mitranya dari Tiongkok menyepakati gencatan senjata sementara dalam perang perdagangan.

Mengutip AFP, Sabtu, 5 Januari 2019, Amerika Serikat dan Tiongkok telah bertukar tarif atau saling balas mengenakan tarif yang tinggi pada lebih dari USD300 miliar barang secara total perdagangan dua arah, menguncinya dalam konflik yang mulai menggerogoti keuntungan dan berkontribusi terhadap kejatuhan pasar saham.

Kementerian Perdagangan Tiongkok mengungkapkan Wakil Perwakilan Dagang AS Jeffrey Gerrish akan memimpin delegasi Washington dan direncanakan membahas pelaksanaan konsensus penting yang dicapai oleh Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping di sela-sela KTT G20 di Argentina tahun lalu.

Berita pertemuan antara AS dan Tiongkok tersebut mengikuti tanda-tanda kecil adanya kemajuan dengan tidak adanya ancaman baru dari Trump. Sementara kedua belah pihak bekerja sama untuk meredakan ketegangan perdagangan pada 1 Maret.

Trump memprakarsai perang dagang karena keluhan atas praktik perdagangan Tiongkok yang tidak adil -kekhawatiran yang sama-sama dimiliki oleh Uni Eropa, Jepang dan lainnya. Gencatan senjata dimulai pada 1 Desember di Buenos Aires setelah kedua kepala negara sepakat untuk menunda tarif lebih lanjut atau pembalasan selama 90 hari.

Pada Desember, Kementerian Perdagangan Beijing mengatakan Tiongkok dan AS akan membuat kemajuan baru pada masalah neraca perdagangan dan kekayaan intelektual -salah satu poin utama perselisihan perdagangan- selama panggilan telepon antara pejabat dari kedua negara.

Penimbunan biji-bijian utama milik Pemerintah Tiongkok mengatakan telah kembali membeli kedelai AS, dan Beijing mengumumkan akan menangguhkan tarif tambahan untuk mobil dan suku cadang buatan AS mulai 1 Januari.

(ABD)

Trump: Pasar Saham Naik Usai Kesepakatan Perdagangan

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengungkapkan bahwa ada kesalahan yang terjadi di pasar saham pada bulan lalu atau di Desember 2018. Akan tetapi ekuitas harus pulih ketika AS menyelesaikan kesepakatan perdagangan dengan negara-negara seperti Tiongkok.

“Negara kami jauh lebih baik daripada negara lain di dunia. Kami menjadi pembicaraan dunia. Kami memiliki sedikit kesalahan di pasar saham bulan lalu, tetapi kami masih naik sekitar 30 persen sejak saya terpilih,” kata Trump, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019.

S&P 500 turun lebih dari sembilan persen di Desember, terburuk sejak 1931. Menurut Howard Silverblatt, indeks S&P dan Dow Jones kehilangan sekitar USD2,9 triliun secara nilai pada bulan lalu. Kerugian itu juga mendorong indeks saham secara luas ke kinerja tahunan terburuk sejak 2008 -ketika jatuh lebih dari 38 persen.

“Ini akan naik setelah kita menyelesaikan masalah perdagangan dan beberapa hal lainnya yang telah terjadi. Masih harus menempuh jalan panjang,” kata Trump.

Ekuitas turun tajam pada Desember karena investor bergulat dengan ketakutan bahwa Federal Reserve mungkin membuat kesalahan kebijakan moneter, adanya kekhawatiran tentang kemungkinan perlambatan ekonomi, dan negosiasi perdagangan yang sedang berlangsung antara Tiongkok dan Amerika Serikat.

Tiongkok dan AS sepakat untuk melakukan gencatan senjata 90 hari pada 1 Desember untuk mencoba dan mencapai kesepakatan perdagangan permanen. Kedua negara telah mengenakan tarif barang bernilai miliaran dolar dari masing-masing. Sejauh ini, tetap ada harapan agar kesepakatan perdagangan bisa tercapai.

Sebelumnya, Presiden Tiongkok Xi Jinping mengatakan kepada Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump dalam pesan ucapan selamat yang menandai 40 tahun sejak pembentukan hubungan diplomatik bahwa sejarah menunjukkan kerja sama adalah pilihan terbaik bagi Tiongkok dan Amerika Serikat.

Dalam pesannya kepada Trump, Xi mengatakan, hubungan Tiongkok-AS telah mengalami pasang surut tetapi telah membuat kemajuan bersejarah selama empat dekade terakhir. Xi menambahkan ini telah membawa manfaat besar bagi kedua bangsa dan telah memberikan kontribusi besar bagi perdamaian dunia, stabilitas dan kemakmuran.

“Sejarah telah membuktikan bahwa kerja sama adalah pilihan terbaik bagi kedua belah pihak,” pungkas Xi.

(ABD)

Ekonomi Melambat, Tiongkok Potong Rasio Cadangan Bank

Beijing: Bank sentral Tiongkok atau People’s Bank of China (PBOC) mengambil kebijakan untuk memotong rasio uang tunai yang harus dimiliki bank sebagai cadangan sebesar 100 basis poin (bps) atau satu persen. Langkah itu diambil guna mengurangi risiko perlambatan yang lebih tajam dalam ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Pemotongan rasio persyaratan cadangan bank (RRR) adalah yang pertama pada 2019 dan yang kelima dalam setahun oleh People’s Bank of China, karena ekonomi Tiongkok menghadapi pertumbuhan terlemah sejak krisis keuangan global dan tekanan yang meningkat dari tarif Amerika Serikat. (AS).

Mengutip CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019, PBOC mengungkapkan pengurangan dilakukan dalam dua tahap yang sama dan efektif mulai 15 Januari dan 25 Januari. Rasio persyaratan cadangan (RRR) saat ini adalah 14,5 persen untuk bank besar dan 12,5 persen untuk bank kecil.

Pemotongan lebih lanjut dalam RRR telah diperkirakan secara luas tahun ini, terutama setelah serentetan data yang lemah dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan ekonomi Tiongkok terus kehilangan tenaga. Ukuran pergerakan berada di ujung atas ekspektasi pasar.

Di sisi lain, Presiden Tiongkok Xi Jinping memuji reformasi rekonstruktif Tiongkok dalam pidato Tahun Baru. Akan tetapi implementasi perubahan sangat dibutuhkan guna menghindari kemungkinan penurunan ekonomi yang berpotensi menghancurkan di masa mendatang.

Jalan ke depan lebih rumit dengan perselisihan perdagangan yang tidak stabil dengan Amerika Serikat yang jika tidak terselesaikan akan menambah beban bagi para pembuat kebijakan di Beijing. Hal itu karena mereka berusaha untuk mendorong ekonomi yang mulai kehabisan tenaga.

Beijing selama bertahun-tahun berada di bawah tekanan untuk memperkenalkan reformasi yang sangat dibutuhkan untuk infrastruktur negara itu. Sedangkan perusahaan-perusahaan milik negara bergerak melambat sebagai bagian dari upaya menyelesaikan persoalan utang yang terus membengkak.

Kondisi itu sejalan dengan upaya mengubah mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari investasi dan ekspor ke konsumsi domestik. “Ketika pertukaran antara reformasi dan pertumbuhan muncul, kami berharap bahwa prioritas akan lebih sering diberikan untuk mendukung pertumbuhan,” kata Gene Fang dari lembaga pemeringkat Moody.

(ABD)

Tiongkok Perlu Tunda Reformasi untuk Pacu Perekonomian

Beijing: Presiden Tiongkok Xi Jinping memuji reformasi rekonstruktif Tiongkok dalam pidato Tahun Baru. Akan tetapi implementasi perubahan sangat dibutuhkan guna menghindari kemungkinan penurunan ekonomi yang berpotensi menghancurkan di masa mendatang.

Mengutip AFP, Sabtu, 5 Januari 2019, jalan ke depan lebih rumit dengan perselisihan perdagangan yang tidak stabil dengan Amerika Serikat yang jika tidak terselesaikan akan menambah beban bagi para pembuat kebijakan di Beijing. Hal itu karena mereka berusaha untuk mendorong ekonomi yang mulai kehabisan tenaga.

Beijing selama bertahun-tahun berada di bawah tekanan untuk memperkenalkan reformasi yang sangat dibutuhkan untuk infrastruktur negara itu. Sedangkan perusahaan-perusahaan milik negara bergerak melambat sebagai bagian dari upaya menyelesaikan persoalan utang yang terus membengkak.

Kondisi itu sejalan dengan upaya mengubah mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari investasi dan ekspor ke konsumsi domestik. “Ketika pertukaran antara reformasi dan pertumbuhan muncul, kami berharap bahwa prioritas akan lebih sering diberikan untuk mendukung pertumbuhan,” kata Gene Fang dari lembaga pemeringkat Moody.

Adapun 10 tahun yang lalu Tiongkok melepaskan kekuatan penuh dari gudang keuangannya dengan memperkenalkan langkah-langkah stimulus besar-besaran, yang membantu Beijing mencegah terjadinya kondisi terburuk dari krisis keuangan yang pernah melanda seluruh dunia.

Namun, itu membantu menabur benih masalah ekonomi saat ini, dengan utang pada tingkat yang mengkhawatirkan dan reformasi ekonomi yang diperlukan tidak ditangani karena para pemimpin fokus pada mempertahankan pertumbuhan dan lapangan kerja yang stabil.

Sekarang, dengan gagap ekonomi global, perlambatan di pasar ekspor utama mengurangi sumber pendapatan penting. Sementara negara ini sedang berjuang dengan sejumlah besar masalah struktural seperti populasi yang menua dan sekarang menyusut, kumpulan populasi yang semakin menipis, pekerja pedesaan, kelebihan kapasitas, dan polusi udara.

Dan kemudian ada perang dagang dengan Amerika Serikat. “Ekonomi Tiongkok sedang berjuang. Kekacauan utang belum terselesaikan dan dampak dari tarif AS baru saja dimulai,” kata Bill Bishop, seorang ahli di Tiongkok seraya menambahkan bahwa Partai Komunis akan melakukan segala cara untuk memperbaiki perekonomian dengan berbagai bentuk rangsangan.

(ABD)

Bank Sentral Tiongkok Dorong Pembiayaan Perusahaan Swasta

Tiongkok (AFP/GREG BAKER).

Beijing: Bank sentral Tiongkok akan mendorong lembaga keuangan di negara itu  untuk lebih banyak membiayai perusahaan swasta, terutama perusahaan kecil dan mikro pada 2019.

Sebagaimana dikutip dari Xinhua, Minggu, 6 Januari 2019, pemerintah daerah didorong untuk menyiapkan dana pembiayaan untuk perusahaan swasta, dan alat pendukung untuk penerbitah saham dan pembiayaan obligasi untuk perusahaan swasta juga akan dipromosikan.
 
Dukungan yang lebih kuat juga akan diberikan kepada perusahaan teknologi tinggi, sektor yang baru muncul, dan produsen yang mengalami peningkatan struktural.

Bank sentral Tiongkok juga mengatakan akan melakukan kebijakan moneter yang berhati-hati dengan tidak terlalu ketat atau terlalu longgar sambil menjaga likuiditas pasar serta kestabilan tingkat suku bunga pasar.

Langkah-langkah akan diambil untuk menstabilkan tingkat pinjaman makro, mengerjakan peraturan tentang perusahaan holding keuangan, mengatasi risiko shadow banking dan mengatur fintech.

Bank sentral Tiongkok telah memutuskan untuk memotong rasio persyaratan cadangan (RRR) sebesar satu poin persentase dalam upaya untuk meningkatkan sumber pendanaan pinjaman usaha kecil, mikro, dan swasta.

 

(SAW)

Tiongkok Hadapi Tingginya Utang untuk Proyek Infrastruktur

Illustrasi. Dok : AFP.

Beijing: Perbankan Tiongkok hadapi gelombang dari besarnya utang untuk proyek infrastruktur yang akan mencegah perlambatan ekonomi negeri Panda itu. Namun langkah yang dilakukan dengan mempermudah penerbitan surat utang itu diharapkan bisa memberikan masalah finansial bagi perekonomian Tiongkok.

Dikutip dari SMCP, Minggu, 6 Januari 2019, Komite Tetap Kongres Rakyat Nasional Tiongkok mengizinkan pemerintah pusat untuk segera mengalokasikan kuota utang pemerintah lokal lebih cepat dari jadwal semula. Beijing sedang mengimplementasikan kebijakan fiskal proaktif untuk menghidupkan roda ekonomi Tiongkok ketika ekonomi Tiongkok jatuh setelah PDB-nya menyentuh titik terendah dalam satu dekade di 2018.

Pemerintah pun setuju dengan penerbitan obligasi lokal senilai 1,39 triliun yuan atau USD202 miliar terdiri dari 810 miliar yuan (USD117,82 miiliar) untuk obligasi spesial dan 580 miliar yuan untuk obligasi biasa. Obligasi spesial berbeda dari obligasi pemerintah lokal biasa karena itu dibayar dari proyek yang dibiayai ketimbang dari pemerintah.

Disaat yang sama pemerintah masih mengkaji apakah proyek yang dibiayai obligasi itu akan memberikan hasil yang diharapkan terutama untuk jalan di wilayah terpencil, taman atau pengembangan di rumah terkecil.

Sebagai contoh wilayah Xiongan New District yang didesain oleh President Xi Jinping sebagai contoh kota masa depan menerbitkan obligasi 30 miliar yuan atau USD4,36 miliar pada akhir desember temasuk 15 miliar yuan obligasi spesial untuk mendanai perkembangan infrastruktur.

Selain pemangkasan pajak pada tahun ini, menghabiskan dana infarstruktur menjadi metode yang favorit untuk menstabilkan ekonomi tiongkok. Obligasi yang akan dikeluarkan pemerintah pada 2019 diharapkan bisa mencapai 3 triliun yuan tau mencapai USD436 miiar atau lebih tinggi dari obligasi senilai 2,18 triliun yuan di 2018.

Iris Pang ekonom di ING Bank mengatakan bahwa isu untuk menstabilkan pekerjaan dan melawan melemahnya pertumbuhan ekonomi, utang ini akan bisa menjadi masalah di kemudian hari.

Amanda Du analis senior di Moody  menjelaskan bahwa investor masih belum jelas mengenai obligasi spesial yang akan diutarakan. Apalagi jika level pemerintahan regional di bawah provinsi menggunakan ini untuk membiayai proyek infrastruktur.   “Semestinya dokumen obligasi hanya diminta untuk data fiskal dan ekonomi dari level provinsi, dan bukan untuk pemeirntah level bawah yang akan menimbulkan miss informasi,” ujar Amanda.

(SAW)

Trump: Perundingan Dagang dengan Tiongkok akan Berjalan Baik

Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump. (FOTO: AFP)

Washington: Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mengatakan pada Minggu, 6 Januari 2019 bahwa perundingan perdagangan dengan Tiongkok akan berjalan sangat baik. Pelemahan dalam ekonomi Tiongkok memberi Beijing alasan untuk bekerja menuju kesepakatan.

Mengutip Antara, Senin, 7 Januari 2019, para pejabat AS akan bertemu dengan rekan-rekan mereka di Beijing minggu ini untuk pembicaraan tatap muka pertama sejak Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping pada Desember menyetujui gencatan senjata 90 hari dalam perang dagang yang telah mengguncang pasar internasional.

Trump memberlakukan tarif impor pada ratusan miliar dolar AS barang-barang Tiongkok untuk menekan Beijing mengubah praktik-praktiknya pada berbagai masalah mulai dari subsidi industri hingga peretasan.

Tiongkok membalas dengan tarifnya sendiri. Trump mengatakan tarif AS telah merugikan Tiongkok. “Saya pikir Tiongkok ingin menyelesaikannya. Ekonomi mereka tidak baik,” kata Trump kepada wartawan di Gedung Putih sebelum naik helikopter kepresidenam Marine One.

“Saya pikir itu memberi mereka insentif besar untuk bernegosiasi.”

Beijing pada Jumat, 4 Januari 2019, memangkas persyaratan cadangan bank-bank di tengah melambatnya pertumbuhan di dalam negeri dan tekanan dari tarif AS.

Ditanya apa yang dia harapkan dari pembicaraan minggu ini di Beijing, Trump menyuarakan nada positif. “Pembicaraan Tiongkok akan berjalan sangat baik,” katanya.

“Saya benar-benar yakin mereka ingin membuat kesepakatan.”

(AHL)

Bos IMF Apresiasi Kinerja Presiden Bank Dunia

Menteri Keuangan Sri Mulyani (kiri) saat bersama Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim dan Managing Director IMF Christine Lagarde. (FOTO: AFP)

Jakarta: Managing Director IMF Christine Lagarde mengapresiasi kinerja Presiden Bank Dunia Jim Yong Kim. Hal ini menyusul mundurnya Kim dari jabatannya tersebut.

Dalam akun media sosialnya di Twitter, Lagarde menyebut Kim adalah seorang kolega yang hebat. IMF bersama Bank Dunia telah bekerja secara efektif dalam menghadapi berbagai isu ekonomi global.

“Jim adalah teman. Saya akan merindukan kolaborasi kita dan saya berharap kesuksesannya di masa depan,” tutur Lagarde dalam cuitannya, seperti dikutip Medcom.id, Selasa, 8 Januari 2019.

Kim melepas jabatannya yang belum berakhir karena akan bergabung dengan perusahaan swasta yang bergerak di bidang infrastruktur. Keputusannya tersebut disebut Menteri Keuangan Sri Mulyani sesuai dengan yang dibayangkannya.

Wanita yang kerap disapa Ani ini menuturkan kepindahan Kim ke sektor swasta tersebut agar lebih banyak berguna bagi negara-negara berkembang di dunia.

“Saya rasa keputusan Presiden Kim dihormati saja, Indonesia salah satu anggota Bank Dunia tentu mengharapkan lembaga ini dapat dijaga dari sisi visi misi untuk menjaga fungsinya dan terus meningkatkan pemerataan dan kesejahteraan,” papar Ani, di Hotel Ritz-Carlton Pasific Place, Jakarta, Selasa, 8 Januari 2019.

Pengunduran diri Kim dari Bank Dunia tidak terduga, karena ia ditunjuk untuk masa jabatan lima tahun kedua sebagai presiden bank pembangunan multilateral itu pada 2016. Kim pertama kali menjadi Presiden Bank Dunia ke-12 pada 1 Juli 2012. Sebelum menduduki jabatan tersebut, ia menjabat sebagai Presiden Dartmouth College.

CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva akan berperan sebagai presiden sementara yang efektif mulai 1 Februari 2019.

(AHL)

AS-Tiongkok Resmi Bahas Perang Dagang

Pertemuan antara Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) dengan Presiden AS Donald Trump (kanan) saat gencatan senjata pada Desember 2018 lalu. (FOTO: AFP)

Beijing: Para pejabat Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok akan memulai pembicaraan kesepakatan perang dagang untuk menyelesaikan sengketa perdagangan mereka yang rusak.

Melansir BBC, Senin, 7 Januari 2019, pada tahun lalu kedua negara memberlakukan tarif miliaran dolar untuk beberapa barang terhadap satu sama lain.

Pembicaraan yang akan berlangsung selama dua hari ini menandai pertemuan formal pertama sejak keduanya sepakat menahan diri selama 90 hari untuk memberi tarif impor lebih lanjut.

Pertemuan itu terjadi di tengah meningkatnya kekhawatiran tentang dampak dari ketegangan perdagangan ekonomi global. Delegasi AS akan dipimpin oleh Wakil Perwakilan Dagang AS Jeffrey Gerrish.

Menjelang pertemuan kedua negara di Beijing, Presiden AS Donald Trump mengatakan negosiasi antara kedua pihak berjalan “sangat baik”.

“Saya pikir Tiongkok ingin menyelesaikannya. Ekonomi mereka tidak berjalan baik,” katanya kepada wartawan, Minggu waktu setempat.

“Saya pikir itu memberi mereka insentif besar untuk bernegosiasi,” tambah Trump.

(AHL)

Apa yang Dibahas dalam Kesepakatan Perang Dagang?

Presiden Tiongkok Xi Jinping (kiri) dan Presiden AS Donald Trump. (FOTO: AFP)

Beijing: Perwakilan Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok kembali bertemu untuk membahas kesepakatan perang dagang lebih lanjut.

Para pejabat dari Tiongkok dan AS diperkirakan akan membahas berbagai masalah pelik terkait perang dagang tersebut. Demikian seperti dilansir dari BBC, Senin, 7 Januari 2019.

Gedung Putih mengatakan pada Desember lalu bahwa kedua belah pihak akan menegosiasikan perubahan struktural, sehubungan dengan transfer teknologi paksa, perlindungan kekayaan intelektual, hambatan nontarif, intrusi dunia maya, serta pencurian dunia maya.

AS mengatakan praktik perdagangan “tidak adil” Tiongkok telah berkontribusi pada defisit perdagangan yang tinggi. AS pun menuduh Tiongkok telah melakukan pencurian kekayaan intelektual.

Layaknya negara-negara lain di Barat, AS juga mengkhawatirkan risiko yang ditimbulkan perusahaan Tiongkok terhadap keamanan nasional mereka.

Semakin banyak yang melihat perang dagang sebagai pertempuran untuk kepemimpinan global antara dua ekonomi terbesar di dunia itu.

Taruhannya tinggi. Ada potensi kegagalan untuk mencapai kesepakatan dari kedua negara dalam melanjutkan memajaki barang satu sama lain.

Presiden Trump mengatakan dia siap mengenakan tarif pada sisa USD267 miliar terhadap ekspor tahunan Tiongkok ke AS jika kedua belah pihak gagal menyepakati kesepakatan dalam periode gencatan senjata 90 hari.

(AHL)

Presiden Bank Dunia Mengundurkan Diri

Washington: Presiden Kelompok Bank Dunia Jim Yong Kim mengumumkan bahwa ia akan mengundurkan diri dari posisinya, setelah lebih dari enam tahun di lembaga pemberi pinjaman internasional itu.

“CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva akan berperan sebagai presiden sementara yang efektif mulai 1 Februari,” kata Bank Dunia dalam sebuah pernyataannya, seperti dilansir dari Antara, Selasa, 8 Januari 2019.

Pengunduran diri Kim dari Bank Dunia tidak terduga, karena ia ditunjuk untuk masa jabatan lima tahun kedua sebagai presiden bank pembangunan multilateral itu pada 2016. Kim pertama kali menjadi Presiden Bank Dunia ke-12 pada 1 Juli 2012. Sebelum menduduki jabatan tersebut, ia menjabat sebagai Presiden Dartmouth College.

“Merupakan kehormatan besar menjadi Presiden lembaga luar biasa ini, penuh dengan individu bersemangat yang didedikasikan untuk misi mengakhiri kemiskinan ekstrem dalam hidup kita,” kata Kim dalam sebuah pernyataan.

“Pekerjaan Kelompok Bank Dunia lebih penting sekarang daripada sebelumnya, karena aspirasi-aspirasi masyarakat miskin meningkat di seluruh dunia, dan masalah-masalah seperti perubahan iklim, pandemi, kelaparan, serta pengungsi terus tumbuh dalam skala dan kompleksitas mereka,” tambah Kim.

Segera setelah kepergiannya, Kim akan bergabung dengan sebuah perusahaan dan fokus pada peningkatan investasi infrastruktur di negara-negara berkembang. Bank Dunia menambahkan rincian posisi baru ini akan segera diumumkan.

(ABD)

Bursa Wall Street Ditutup Menguat

New York: Saham-saham di Wall Street lebih tinggi pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), setelah bergerak fluktuatif. Hal itu terjadi karena para investor mencerna beberapa data ekonomi penting, termasuk sinyal dari Federal Reserve AS.

Mengutip Antara, Selasa, 8 Januari 2019, indeks Dow Jones Industrial Average naik 98,19 poin atau 0,42 persen, menjadi berakhir di 23.531,35 poin. Indeks S&P 500 bertambah 17,75 poin atau 0,70 persen, menjadi ditutup di 2.549,69 poin. Indeks Komposit Nasdaq meningkat 84,61 poin atau 1,26 persen, menjadi berakhir di 6.823,47 poin.

Di bidang ekonomi, sektor jasa-jasa Amerika Serikat (AS) berkembang pada kecepatan yang lebih lambat dari yang diperkirakan pada Desember. Lembaga riset swata Institute for Supply Management (ISM) mengatakan indeks non-manufaktur berada di 57,6 pada bulan lalu, lebih rendah dari perkiraan para analis dan angka pada November.

Pada Jumat 4 Janari, Ketua Federal Reserve Jerome Powell mengisyaratkan pengetatan moneter yang lebih lambat. Dia mengatakan para pejabat-pejabat the Fed terus mengawasi suara-suara pasar keuangan, dan bahwa kebijakan the Fed fleksibel dan melekat pada perkembangan ekonomi terkini.

Ketua the Fed menambahkan bahwa bank sentral tidak akan ragu untuk menyesuaikan rencana pengurangan neraca, jika menyebabkan masalah di pasar. Fed menaikkan suku bunga empat kali tahun lalu. Langkah kenaikan suku bunganya, yang dianggap terlalu cepat oleh beberapa investor, telah mengguncang pasar.

(ABD)

Kemilau Emas Dunia Salip Dolar AS

Chicago: Emas berjangka di divisi Comex New York Mercantile Exchange naik pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB), dengan harga mendapatkan dukungan karena data non manufaktur dari Institute for Supply Management (ISM) AS yang mengecewakan membantu menekan dolar Amerika Serikat (USD) melemah.

Mengutip Antara, Selasa, 8 Januari 2019, kontrak emas paling aktif untuk pengiriman Februari naik sebanyak USD4,10 atau 0,32 persen menjadi menetap pada USD1.289,00 per ons. Indeks USD, yang mengukur greenback dolar terhadap enam mata uang utama saingannya, turun 0,57 persen menjadi 95,65 pada pukul 18.15 GMT.

Data pada Senin 7 Januari menunjukkan bahwa aktivitas di perusahaan-perusahaan AS yang berorientasi di jasa-jasa pada Desember tumbuh pada laju paling lambat sejak pertengahan musim panas. Indeks non manufaktur yang dikeluarkan oleh Institute for Supply Management turun menjadi 57,6 bulan lalu dari 60,7 pada November.

Emas biasanya bergerak berlawanan arah dengan USD, yang berarti jika USD melemah maka emas berjangka akan naik, karena emas yang dihargai dalam USD menjadi murah bagi investor yang menggunakan mata uang lainnya.

Adapun logam mulia lainnya, perak untuk pengiriman Maret turun tiga sen AS atau 0,19 persen, menjadi menetap di USD15,756 per ons. Sedangkan platinum untuk pengiriman April turun sebanyak USD2,9 atau 0,35 persen menjadi ditutup pada USD824,30 per ons.

(ABD)

Harga Minyak Dunia Bangkit

New York: Harga minyak dunia sedikit lebih tinggi pada penutupan perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB) atau kembali menguat lebih lanjut dari tingkat terendah satu setengah tahun yang dicapai pada Desember. Kondisi itu didukung pengurangan produksi OPEC dan penguatan di pasar saham.

Mengutip Antara, Selasa, 8 Januari 2019, patokan global, minyak mentah Brent untuk pengiriman Maret naik USD0,27 atau 0,47 persen menjadi ditutup pada USD57,33 per barel di London ICE Futures Exchange.

Sementara itu, minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Februari naik USD0,56 atau 1,17 persen menjadi menetap pada USD48,52 per barel di New York Mercantile Exchange. Minyak berjangka telah naik lebih dari tujuh persen sejak Senin lalu 31 Desember 2018.

“Momentum sedang kembali ke pasar dari tingkat harga yang sangat tertekan,” kata Ahli Strategi Petromatrix Olivier Jakob.

Harga mendapat dukungan dari laporan Wall Street Journal yang mengatakan bahwa Arab Saudi berencana untuk memotong ekspor minyak mentahnya menjadi sekitar 7,1 juta barel per hari (bph) pada akhir Januari.

OPEC dan sekutunya berusaha mengendalikan lonjakan pasokan global, yang sebagian besar didorong oleh Amerika Serikat, di mana produksinya melampaui 11 juta barel per hari pada 2018. Rekor produksi minyak mentah yang tinggi telah mendorong kenaikan persediaan AS.

Pasokan minyak OPEC turun pada Desember sebesar 460 ribu barel per hari (bph) menjadi 32,68 juta barel per hari, sebuah survei menemukan minggu lalu, dipimpin oleh pemotongan dari pengekspor utama Arab Saudi.

“Kami terus melihat pengurangan produksi OPEC yang menjadi resmi pekan lalu, sebagai pertimbangan bullish yang sah dan kami masih mencari pengurangan untuk diterjemahkan ke pengurangan surplus minyak mentah AS yang berpotensi dikurangi dalam sekitar 8-9 minggu,” kata Presiden Ritterbusch and Associates Jim Ritterbusch dalam sebuah catatan.

(ABD)

Fed: AS Hanya Perlu Menaikkan Suku Bunga Sekali

Atlanta: Presiden Fed Atlanta Raphael Bostic mengatakan bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (the Fed) mungkin hanya perlu menaikkan suku bunga sekali pada 2019. Kegelisahan para eksekutif bisnis tentang ekonomi dan perlambatan global merupakan faktor yang menahan bank sentral AS menaikkan suku bunganya.

“Saya pada satu langkah untuk 2019,” kata Bostic, seperti dilansir dari Antara, Selasa, 8 Januari 2019.

Meskipun pertumbuhan ekonomi AS lebih cepat dari yang diharapkan pada 2018 dan mendorong the Fed menaikkan suku bunga empat kali, Bostic mengatakan, kontak-kontak bisnisnya tampak kurang percaya tentang bulan-bulan mendatang, sementara “awan” telah berkembang di luar negeri.

“Awan, kegugupan, telah membawa saya ke suatu tempat di mana saya ingin memastikan bahwa kita tidak bertindak terlalu agresif,” kata Bostic dalam sebuah acara di Rotary Club of Atlanta.

Bostic bukan anggota komite kebijakan penetapan suku bunga the Fed tahun ini. Tetapi komentar-komentarnya menunjukkan bagaimana kombinasi aksi jual baru-baru ini di pasar saham dan data ekonomi yang lemah dari Tiongkok dan Eropa telah mulai menggeser tenor percakapan di bank sentral AS.

Seain itu, tambahnya, terdapat daftar masalah-masalah potensial termasuk penutupan sebagian Pemerintahan AS saat ini, yang telah menyebabkan ratusan ribu karyawan federal tanpa gaji.

“Jika itu bertahan lebih lama, ini bisa menjadi lebih material,” kata Bostic, dengan keluarga-keluarga mungkin terpaksa mengurangi pengeluaran, dan kreditor menghadapi keputusan tentang apa yang harus dilakukan jika orang-orang menunggak dalam pembayaran sewa dan kredit kepemilikan rumah (hipotek).

Pekan lalu, Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bank sentral akan sabar ketika ia menilai apa yang harus dilakukan selanjutnya. Khususnya ketika kebijakan suku bunga jangka pendek the Fed mendekati netral. Bostic mengatakan bank sentral perlu berhati-hati untuk tidak melangkah terlalu jauh dan dengan tidak sengaja memperketat pasar kredit terlalu banyak.

(ABD)

Dolar AS Terus Terjun Bebas

New York: Kurs dolar Amerika Serikat (USD) memperpanjang pelemahan pada akhir perdagangan Senin waktu setempat (Selasa WIB). Kondisi itu lantaran investor mata uang berspekulasi bahwa kenaikan suku bunga akan melambat tahun ini setelah pernyataan dovish ketua Federal Reserve AS minggu lalu.

Mengutip Antara, Selasa, 8 Januari 2019, indeks USD, yang mengukur greenback terhadap enam mata uang utama saingannya, turun 0,54 persen menjadi 95,6675 pada akhir perdagangan. Pada akhir perdagangan New York, euro naik menjadi USD1,1478 dari USD1,1398 pada sesi sebelumnya, dan pound Inggris naik menjadi USD1,2769 dari USD1,2740 pada sesi sebelumnya.

Dolar Australia naik menjadi USD0,7142 dibandingkan dengan USD0,7116. Dolar AS dibeli 108,60 yen Jepang, lebih tinggi dibandingkan dengan 108,52 yen Jepang pada sesi sebelumnya. Dolar AS turun menjadi 0,9794 franc Swiss dibandingkan dengan 0,9864 franc Swiss, dan turun menjadi 1,3296 dolar Kanada dari 1,3394 dolar Kanada.

Pasar valuta asing global menjalani hari pertama minggu ini dengan perdagangan yang tidak menentu, karena kenaikan suku bunga lebih sedikit di tahun ini akan menyebabkan lebih banyak uang panas atau hot money mengalir di pasar.

Ini akan memangkas keunggulan komparatif greenback terhadap mata uang utama lainnya, terutama yang memiliki fungsi sebagai mata uang safe haven seperti franc Swiss. Dolar AS kehilangan 0,7 persen terhadap franc Swiss pada Senin 7 Januari.

Ketua Fed Jerome Powell mengatakan bahwa tidak ada jalur yang telah ditentukan untuk penaikan suku bunga serta the Fed akan bersabar dan mengawasi suara-suara pasar keuangan. Dan khususnya dengan angka inflasi yang diredam itu telah dilihat, the Fed akan bersabar ketika kita memantau untuk melihat bagaimana ekonomi berkembang

“Seperti biasa, tidak ada jalur yang ditetapkan untuk kebijakan,” kata Powell, bersama dengan pendahulunya Janet Yellen dan Ben Bernanke pada pertemuan tahunan American Economic Association di Atlanta.

Dia menambahkan bahwa bank sentral AS tidak akan ragu untuk menyesuaikan rencana pengurangan neraca, jika itu menyebabkan masalah di pasar. Itu berarti mengubah program pembelian obligasi besar-besaran yang awalnya dilaksanakan pada akhir 2008 untuk menyelamatkan sistem keuangan AS yang jatuh.

(ABD)