Kinerja Manufaktur Tiongkok Memburuk di Desember 2018

Beijing: Hasil survei pribadi pada manufaktur Tiongkok untuk Desember menunjukkan pelemahan untuk pertama kalinya dalam 19 bulan di tengah sengketa perdagangan dengan Amerika Serikat (AS). Meski sudah ada gencatan senjata, namun kata sepakat belum tercapai yang akhirnya masih membebani aktivitas perekonomian.

Indeks Manajer Pembelian Manufaktur Caixin/Markit (PMI), survei swasta, turun menjadi 49,7 pada Desember dibandingkan dengan posisi 50,2 pada November. Analis dalam jajak pendapat memperkirakan PMI berada di 50,1 pada Desember. Angka di atas 50 mengindikasikan ekspansi, sementara angka di bawah level itu menandakan kontraksi.

Pada Desember, dua langkah terpisah untuk pesanan baru dan pesanan ekspor baru menunjukkan kontraksi, survei Caixin menunjukkan. Hal itu tentu sangat disayangkan dan perlu ada upaya memperbaiki secara maksimal agar tidak memberikan katalis negatif terhadap perekonomian Tiongkok di masa mendatang.

“Itu menunjukkan permintaan eksternal tetap lemah karena gesekan perdagangan antara Tiongkok dan AS, sementara permintaan domestik terus melemah,” tulis Direktur Analisis Ekonomi Makro CEBM Group, anak perusahaan Caixin, Zhengsheng Zhong, seperti dikutip dari CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019.

Data ekonomi dari ekonomi terbesar kedua di dunia sedang diawasi ketat untuk tanda-tanda kerusakan yang ditimbulkan oleh perang perdagangan yang sedang berlangsung antara Washington dan Beijing. Sejauh ini, perang dagang masih terus terjadi dan kedua negara masih belum menemukan kata sepakat.

PMI manufaktur yang resmi dirilis menunjukkan adanya perlambatan aktivitas untuk Desember, karena sektor ini berkontraksi untuk pertama kalinya dalam lebih dari dua tahun, turun di bawah level kritis 50. Survei pribadi berfokus pada perusahaan kecil dan menengah, sedangkan ukuran PMI resmi berfokus pada perusahaan besar dan perusahaan milik negara.

“Penurunan PMI Tiongkok mengkhawatirkan karena akan ada dampak yang lebih luas pada eksportir Asia,” kata Kepala Ekonomi dan Strategi Mizuho Bank Wisnu Varathan.

Pada awal Desember, Presiden AS Donald Trump dan Presiden Tiongkok Xi Jinping menyetujui gencatan senjata selama 90 hari yang artinya menunda rencana penaikan tarif AS atas barang-barang Tiongkok senilai USD200 miliar yang pada awalnya akan mulai berlaku pada 1 Januari, sementara kedua belah pihak menegosiasikan kesepakatan perdagangan.

(ABD)