Ekonomi Melambat, Tiongkok Potong Rasio Cadangan Bank

Beijing: Bank sentral Tiongkok atau People’s Bank of China (PBOC) mengambil kebijakan untuk memotong rasio uang tunai yang harus dimiliki bank sebagai cadangan sebesar 100 basis poin (bps) atau satu persen. Langkah itu diambil guna mengurangi risiko perlambatan yang lebih tajam dalam ekonomi terbesar kedua di dunia itu.

Pemotongan rasio persyaratan cadangan bank (RRR) adalah yang pertama pada 2019 dan yang kelima dalam setahun oleh People’s Bank of China, karena ekonomi Tiongkok menghadapi pertumbuhan terlemah sejak krisis keuangan global dan tekanan yang meningkat dari tarif Amerika Serikat. (AS).

Mengutip CNBC, Sabtu, 5 Januari 2019, PBOC mengungkapkan pengurangan dilakukan dalam dua tahap yang sama dan efektif mulai 15 Januari dan 25 Januari. Rasio persyaratan cadangan (RRR) saat ini adalah 14,5 persen untuk bank besar dan 12,5 persen untuk bank kecil.

Pemotongan lebih lanjut dalam RRR telah diperkirakan secara luas tahun ini, terutama setelah serentetan data yang lemah dalam beberapa bulan terakhir menunjukkan ekonomi Tiongkok terus kehilangan tenaga. Ukuran pergerakan berada di ujung atas ekspektasi pasar.

Di sisi lain, Presiden Tiongkok Xi Jinping memuji reformasi rekonstruktif Tiongkok dalam pidato Tahun Baru. Akan tetapi implementasi perubahan sangat dibutuhkan guna menghindari kemungkinan penurunan ekonomi yang berpotensi menghancurkan di masa mendatang.

Jalan ke depan lebih rumit dengan perselisihan perdagangan yang tidak stabil dengan Amerika Serikat yang jika tidak terselesaikan akan menambah beban bagi para pembuat kebijakan di Beijing. Hal itu karena mereka berusaha untuk mendorong ekonomi yang mulai kehabisan tenaga.

Beijing selama bertahun-tahun berada di bawah tekanan untuk memperkenalkan reformasi yang sangat dibutuhkan untuk infrastruktur negara itu. Sedangkan perusahaan-perusahaan milik negara bergerak melambat sebagai bagian dari upaya menyelesaikan persoalan utang yang terus membengkak.

Kondisi itu sejalan dengan upaya mengubah mesin pertumbuhan ekonomi Tiongkok dari investasi dan ekspor ke konsumsi domestik. “Ketika pertukaran antara reformasi dan pertumbuhan muncul, kami berharap bahwa prioritas akan lebih sering diberikan untuk mendukung pertumbuhan,” kata Gene Fang dari lembaga pemeringkat Moody.

(ABD)