Bisakah Presiden Bank Dunia Berasal dari Negara Berkembang?

Jakarta: Bank Dunia masih belum memutuskan sosok pengganti dari Jim Yong Kim. Pertanyaan selanjutnya, apakah penganti Kim masih mengikuti kebiasaan lama yang terjadi selama ini dengan memilih calon dari Amerika Serikat, alih-alih tak memberikan kesempatan dari negara berkembang?

Ada harapan bahwa calon presiden bank dunia lainnya ‘menyimpang’ dari tradisi yang sudah ada, meskipun harus memiliki kemampuan yang luas secara internasional dan mengakomodir kepentingan semua negara.  

Sejak berdirinya Bank Dunia dari 1944, semua presiden Bank Dunia merupakan warga negara AS, termasuk Jim, meskipun dia lahir di Korea Selatan. Sementara itu para pemimpin IMF selalu berasal dari negara-negara besar di Eropa.

Raghuram Rajan, mantan gubernur Bank Sentral India dan profesor di Universitas Chicago menjelaskan bahwa seharusnya ada tradisi baru yang menunjukkan bahwa institusi sekelas Bank Dunia dan IMF benar-benar mewakili kepentingan dunia bukan negara-negara barat saja.

“Seharusnya pemilihan presiden Bank Dunia dan IMF berasal dari AS dan eropa harus dikaji ulang supaya merepresentasikan kepentingan dunia,” ujar Raghuram, seperti dilansir dari Xinhua, Minggu, 13 Januari 2019.

Dia berharap pernyataan petinggi Bank Dunia, bahwa presiden selanjutnya akan dipilih berdasarkan asas transparansi dan kemampuan benar-benar dilaksanakan.  Namun kekuatan hak veto AS di Bank Dunia tak bisa dilupakan sebagai pemegang saham terbesar bisa menghalangi hal ini.

Padahal pemilihan presiden Bank Dunia sebagaimana dikutip dari SMCP diprediksi akan melibatkan nama-nama dari negara berkembang seperti Menteri Keuangan Indonesia Sri Mulyani, mantan Menteri Keuangan Kolombia Jose Antonio Ocampo, dan mantan Menteri Keuangan Nigeria Ngozi Okonjo-Iwela. Di luar nama itu ada presiden dari Asian Development Bank Takehiko Nakao.

Munculnya nama-nama itu karena adanya kenaikan peran negara berkembang dalam perekonomian global. Tak bisa dipungkiri  pembangunan infrastruktur di negara berkembang yang sudah terjadi dalam belakangan ini turut berkontribusi dalam perekonomian dunia setelah resesi 2008.

Namun jika seandainya pencalonan presiden Bank Dunia kembali  diisi oleh calon dari negara maju atau AS pun, Anthony Rowley kolumnis SMCP berharap bahwa bank dunia kembali fokusnya mengembangkan pendanaan untuk proyek infrastruktur.

Tugas yang selama ini diambil kelompok pembangunan infrastruktur global G20 di Sidney dan lembaga proyek infrastruktur lainnya yang diinisiasi oleh Tiongkok, Jepang, dan Australia.

Sebelumnya, Jim Yong Kim telah mengumumkan bahwa ia akan mengundurkan diri sebagai Presiden Bank Dunia. CEO Bank Dunia Kristalina Georgieva akan berperan sebagai presiden sementara yang efektif mulai 1 Februari 2019.

Pengunduran diri Kim dari Bank Dunia tidak terduga, karena ia seharusnya mengakhiri masa jabatanya pada 2020 jika dihitung dari pelantikannya pada 2016. Kim pertama kali menjadi Presiden Bank Dunia ke-12 pada 1 Juli 2012. Sebelum menduduki jabatan tersebut, ia menjabat sebagai Presiden Dartmouth College.

 

(SAW)